Rabu, 04 Februari 2015

dosa mengakhiri isya

MENGAKHIRKAN SHOLAT ISYA’ Mayoritas Ulama Fuqoha (ahli fiqh) yang terdiri dari kalangan Hanafiyyah, Hanabilah, dan satu pendapat dari Syafiiyah (pada qaul jadiid) mengakhirkan sholat isya hingga sepertiga malam hukumnya disunahkan, berkata Az-Zaila’ii banyak hadits menerangkan tentang kesunahannya, ini adalah pendapat paling dominannya ahli ilmu dari para shahabat dan tabi’iin, diantara hadits yang menunjukkannya adalah sabda Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam riwayat Abu Hurairoh ra. : “Andaikan aku tidak menghawatirkan memberi kesulitan pada umatku niscaya aku perintahkan pada mereka untuk mengakhirkan sholat isya hngga sepertiga malam atau separuh malam”. (HR Turmudzi I/310-312, Ibnu Maajah I/226, Ahmad Bin Hanbal II/250, Hakim dalam mustadaroknya I/146). Kalangan Hanafiyyah memberi batasan kesunahan mengakhirkan sholat isya diatas pada saat musim dingin sedang saat musim panas justru disunahkan mengawalkan sholat isya’. (Ibnu ‘Abidiin I/146). Kalangan malikiyyah memilih yang lebih utama bagi orang yang sholat sendirian atau berjamah bersama orang-orang yang tidak bisa dinanti kedatangannya mengawalkan sholat walaupun itu sholat isya setelah yakin masuk waktunya. (Syarh alKabiir maa Hasyiyah ad-daasuqi I/180). Dan tidak dianjurkan mengakhirkan sholat isya hingga sepertiga malam terakhir kecuali bagi orang yang memiliki kesibukan penting, seperti menjalankan pekerjaannya, atau karena ada udzur (halangan) seperti sakit dll. Hanya saja menurut mereka (kalangan malikiyyah) dianjurkan mengakhirkan sholat isya dalam tempo waktu sedikit guna mengumpulkan orang yang hendak jamaah. (AlFawaakih ad-Dawaany I/197). Keutamaan menjalankan sholat di awal waktu meskipun sholat isya ini juga merupakan pendapat syafi’iyyah pada Qaul lainnya (qaul qadiim), an-Nawaawy berkata “Yang lebih utama dari dua qaul (pendapat syafi'i ini) menurut kalangan syafiiyah adalah mengerjakan sholat isya di awal waktu hanya saja keutamaan mengakhirkan isya memang memiliki dalil yang kuat. (Mughni alMuhtaaj I/125, 126 dan alMajmu li an-Nawaawy III/57). Wallahu A’lamu Bis Showaab..

0 komentar:

Posting Komentar

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.

Popular Posts