Senin, 01 Desember 2014

soal uas pasca

LEMBAR JAWABAN UJIAN TENGAH SEMESTER 2 MATA KULIAH : MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN DOSEN : PROF. DR. AKDON 1. Penerapan manajemen mutu dalam dunia pendidikan, Total Quality Education (TQE) yang dikembangkan dari konsep Total Quality Management (TQM), pada mulanya diterapkan pada dunia bisnis kemudian diterapkan pada dunia pendidikan (Salis, 2010). Secara filosofis, konsep ini menekankan pada perbaikan yang berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Sehingga tidak mengherankan, jika institusi pendidikan, baik pendidikan dasar dan menengah mau pun pendidikan tinggi berlomba-lomba mengadopsi teori dan praktek manajemen mutu di perusahaan untuk diterapkan di institusi pendidikannya, yang disahkan melalui sertifikasi yang diberikan oleh lembaga yang berwenang. Salah satu jenis sertifikasi yang banyak dikejar oleh institusi pendidikan adalah sertifikasi ISO dengan berbagai variasinya. ISO sebetulnya berasal dari istilah International Organization for Standardization, supaya lebih mudah disingkat menjadi ISO (Chatab, 1996). Sertifikasi ISO akan diberikan jika institusi pendidikan tersebut telah berhasil menerapkan standar mutu pendidikan secara konsisten sesuai dengan persyaratan ISO. Sejalan dengan penerapan manajemen mutu pada institusi pendidikan tinggi, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) telah mengeluarkan sebuah pedoman, yaitu Pedoman Penjaminan Mutu (Quality Assurance) Pendidikan Tinggi, yang secara tegas mensyaratkan bahwa proses penjaminan mutu di pendidikan tinggi merupakan keharusan yang tidak dapat ditawar lagi. Pedoman ini disusun tidak dengan maksud untuk ‘mendikte’ perguruan tinggi dalam melakukan proses penjaminan mutu pendidikan tinggi, melainkan untuk memberikan inspirasi tentang siapa, apa, mengapa, dan bagaimana penjaminan mutu tersebut dapat dijalankan (Departemen Pendidikan Nasional, 2003). Agar penjaminan mutu pendidikan dapat dilaksanakan, maka terdapat beberapa prasyarat yang harus dipenuhi agar pelaksanaan penjaminan mutu tersebut dapat mencapai tujuannya, yaitu komitmen, perubahan paradigma, dan sikap mental para pelaku proses pendidikan tinggi, serta pengorganisasian penjaminan mutu di perguruan tinggi. Penerapan manajemen mutu dalam dunia pendidikan harus didasari atas komitmen dari berbagai elemen atau semua pihak yang meliputi : pimpinan, tenaga edukatif, tenaga non-edukatif, ataupun tenaga penunjang. Tetapi yang terpenting dari semuanya adalah komitmen kepala sekolah sebagai pimpinan, karena untuk merubah paradigma dan sikap mental serta pengorganisasian penjaminan mutu yang baik dibutuhkan komitmen pimpinan. Tanpa adanya komitment dari pimpinan semua hal yang sudah dirancang akan sia-sia dan tak akan ada gunanya. Jelas sekali bahwa peran pimpinan dalam melaksanakan penjaminan mutu di perguruan tinggi sangatlah penting. Hal ini sejalan dengan pendapat Salis (2010) bahwa: Kepemimpinan adalah unsur penting dalam TQM. Pemimpin harus memiliki visi dan mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam kebijakan yang jelas dan tujuan yang spesifik. Dari pandangan tersbut dapat saya simpulkan sangat setuju manajemen mutu diterapkan dalam dunia pendidikan. Adapun hal yang mendasari pemikiran tersebut: a) Pendidikan adalah industri jasa atau industri pelayanan. Sebagai industri jasa pendidikan sekolah harus mampu memproduksi jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan menyajikannya dengan baik bagi yang memerlukannya. b) Pendidikan mempunyai pelanggan. Jasa yang diproduksi sekolah harus sesuai dengan kebutuhan dan harapan orang-orang dan pihak-pihak yang langsung atau tak langsung akan dilayani dengan jasa pendidikan. Yang menjadi pelanggan bagi sekolah adalah siswa sekolah bersangkutan merupakan pelanggar primer, sedangkan orang tua dan masyarakat merupakan pelanggar sekunder. c) Pelanggan sekolah mempunyai kebutuhan dan harapan. Sekolah sebagai industri jasa harus mampu melakukan analisis untuk mengidentifikasi kebutuhan dan harapan dari berbagai kelompok pelanggannya. Kebutuhan dan harapan siswa harus dapat diidentifikasi secara baik d) Pendidikan direncanakan untuk bisa memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan-pelanggannya. Berdasarkan identifikasi kebutuhan dan harapan pelanggannya, sekolah harus selalu meningkatkan pelayanan terhadap kebutuhan dan harapan pelanggannya. 2. Kesimpulnya bahwa keterkaitan antara mutu, kepemimpinan, total quality management dan total quality leadership itu berbanding lurus dan saling mempengaruhi satu sama lain. Intinya, kalau kepemimpinannya bagus, TQM bagus, TQL bagus, maka mutu pun secara otomatis akan bagus. Begitupun sebaliknya, jika kepemimpinan, TQM, dan TQL kurang, mutu pun akan kurang. Jadi ke empat komponen tersebut saling mempengaruhi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebagai bukti adanya keterkaiatan.demikian di bwah ini penjelasannya. Keterkaitan antara mutu, kepemimpinan, total quality management, dan total quality leadership.Mutu adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan (meeting the needs of customers). Mutu berasal dari bahasa latin yakni “Qualis” yang berarti what kind of (tergantung kata apa yang mengikutinya). Mutu menurut Deming ialah kesesuaian dengan kebutuhan. Mutu menurut Juran ialah kecocokan dengan kebutuhan. (Usman, 2006 : 407). Masih dalam buku yang sama (406) petikan dari Sallis (2003) mengemukakan mutu adalah konsep yang absolut dan relatif. Mutu yang absolut ialah mutu yang idealismenya tinggi dan harus dipenuhi, berstandar tinggi, dengan sifat produk bergengsi tinggi. Konsep kualitas itu sendiri dianggap sebagai ukuran relatif kebaikan suatu produk atau jasa yang terdiri atas kualitas desain atau rancangan dan kualitas kesesuaian atau kecocokan. Kualitas rancangan merupakan fungsi spesifikasi produk, sedangkan kualitas kecocokan adalah seberapa baik produk itu sesuai dengan spesifikasi dan kelonggaran yang disyaratkan oleh rancangan itu. Dari pengertian di atas sebenarnya terdapat beberapa elemen sebagai berikut: A. Kualitas adalah usaha untuk memberi kepuasan bagi pelanggan. B. Kualitas meliputi produk, jasa, proses, dan lingkungannya. C. Kualitas yang selalu berubah kondisinya (kondisi dinamis), saat ini dianggap kualitas hari yang akan datang kemungkinan dianggap tidak berkualitas. Pengelolaan Mutu Terpadu (TQM) memiliki sejumlah pengertian berdasarkan sudut pandang dan perbedaan level organisasi, antara lain: o Dasar untuk perbaikan yang berkesinambungan o Filsafat dalam menjalankan bisnis o Cara yang benar dalam mengelola bisnis o Konsep total pembagian wewenang (people-empowerment) o Memusatkan perhatian pada pelanggan o Komitmen pada mutu o Investasi pada ilmu pengetahuan Secara spesifik TQM dapat didefinisikan sebagai suatu sistem manajemen yang dinamis yang mengikutsertakan seluruh anggota organisasi dengan penerapan konsep dan teknik pengendalian mutu untuk mencapai kepuasan pelanggan dan kepuasan yang mengerjakannya. Total Quality Leadership adalah sistem manajemen strategi yang terintegrasi , untuk mencapai kepuasan pelanggan yang melibatkan seluruh pemimpindan seluruh pengikut atau karyawan dan penggunaan metode kuantitatif untuk mengadakan perbaikan secara terus menerus dan berkesinambungan dalam proses organisasi. Agar sukses dalam menerapkan TQM, suatu organisasi harus berkonsentrasi pada 8 elemen kunci berikut: 1. Etika 2. Integritas (kejujuran) 3. Kepercayaan 4. Pelatihan (training) 5. Kerja tim (team work) 6. Kepemimpinan (leadership) 7. Penghargaan (recognition) 8. Komunikasi TQM telah diciptakan untuk menggambarkan sebuah filsafat yang menjadikan mutu sebagai tenaga penggerak di belakang kepemimpinan, desain, perencanaan, dan inisiatif perbaikan. Untuk hal itu, TQM membutuhkan bantuan dari kedelapan elemen kunci di atas. Elemen-elemen ini selanjutnya dapat dikelompokkan lagi ke dalam empat bagian berdasarkan fungsinya dalam membentuk struktur bangunan TQM. Keempat bagian tersebut adalah:  Pondasi – mencakup: etika, integritas dan kepercayaan  Batu Bata – mencakup: pelatihan, kerja tim, dan kepemimpinan  Campuran Semen Pengikat – mencakup: komunikasi  Atap – mencakup: Penghargaan Oleh karenanya, dalam TQM diperlukan kepemimpinan yang tangguh yang memusatkan pada anak buahnya, otonom, dan memiliki kebebasan secara penuh untuk mengambil keputusan. Menurut Oakland (1994), pemimpin yang tangguh memiliki karakteristik : A. Mempunyai semangat misi, yaitu mampu mempromosikan misi organisasi dengan filosofi TQM ke luar organisasi ; B. Mempunyai target, yaitu target untuk selalu mengadakan continuous quality improvement dengan perbaikan prose; C. Komitmen terhadap mutu, yang harus dimulai dari pimpinan dan disebarluaskan kepada bawahan atau anak buahnya; D. Mendukung perubahan, pemimpin organisasi yang menganut filosofi TQM harus berani mengadakan perubahan dan berani menghadapi risiko dari perubahan-perubahan tersebut; E. Mampu mengadakan kontak dengan pelanggan, pelanggan adalah segalanya bagi organisasi atau perusahaan. Tanpa mereka apa yang telah dilakukan oleh perusahaan akan sia-sia. Pemimpin harus mampu jadi juru bicara dengan pelangan dan mendekatkan organisasi atau perusahaan dengan para pelanggan. 3. Sekolah harus siap dan dan terbuka, dengan mengembangkan “reactive mindset” sebagai upaya meningkatkan kualitas sekolah (unesco 2001). Hal ini berarti sekolah harus adaptif, terbuka, dan peka terhadap perkembangan jaman sebagai usahanya dalam meningkatkan kualitas sekolahnya. Sekolah harus mampu menangkap kebutuhan dan harapan pelanggan, sesuai dengan konsep mutu yang mutu diungkapkan oleh Deming. Mutu ialah kesusaian dengan kebutuhan pasar atau konsumen (Deming, 1982:176). Perusahaan yang bermutu adalah yang menguasai pangsa pasar karena hasil produknya sesuai dengan kebutuhan konsumen, sehingga menimbulkan kepuasan bagi konsumen. Usaha untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas inilah yang didasari oleh pola pikir yang terbuka. 4. Kendala implementasi mutu dalam pendidikan : a. Pengelolaan bersifat macro oriented Pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa kompleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan, seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat.( Umaedi: 1999) b. Strategi pembangunan pendidikan lebih bersifat input oriented strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan ( sekolah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagai mana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek, 1979,1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah), melainkan hanya teljadi dalam institusi ekonomi dan industri. 5. Seorang pemimpin belum tentu seorang manajer, tetapi seorang manajer sudah tentu dia seorang pemimpin. Ada perbedaan mendasar antara memimpin (to lead) dan mengelola (to manage). Memimpin bersangkut-paut dengan upaya mempengaruhi orang untuk bekerja mencapai tujuan yang ditetapkan dengan penuh gairah. Miroengelola berkaitan dengan upaya agar segala yang harus dikerjakan benar-benar dikerjakan oleh orang lain sehingga tujuan organiasi tercapai. Dalam konteks sekolah, seorang kepala sekolah adalah pemimpin sekaligus manajer bagi guru dan karyawan yang berada di sekolah. Sebagai pemimpin, kepala sekolah memotivasi, menginspirasi, mengarahkan, mendorong dan mengajak agar warga sekolah (terutama guru dan karyawan di sekolah) bekerja menjalankan tugasnya demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan penuh gairah dan bertanggung jawab. Dalam konteks ini, kepala sekolah bertanggung jawab atas kesejahteraan warga sekolah, suasana saling menghormati, iklim kerja sekolah, profesionalisme, dan hal-hal yang terkait dengan pengembangan diri guru dan karyawan, sehingga mereka menjadi lebih baik, lebih profesional, lebih bermartabat, lebih sejahtera, dan tetap terlindungi. Sebagai manajer, kepala sekolah mengelola sekolah secara keseluruhan, mulai dari menyusun rencana termasuk membuat peraturan demi kelancaran dan kemajuan sekolah sesuai tujuan yang telah ditetapkan, melakukan organisasi terhadap sumber daya yang ada termasuk mengatur pembagian tugas–siapa melakukan apa, memastikan bahwa program yang sudah dibuat benar-benar dilaksanakan oleh warga sekolah, dan mengawasi pelaksanaan tugas dari masing-masing bagian yang sudah mendapatkan tugas. Dalam konteks manajemen, keempat hal tersebut disingkat POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). 6. “Juran’s Trilogy” yaitu : a. Quality planning b. Quality control c. Quality improvement Uraikan dan berikan gambaran keterkaitan antara ketiganya! Teori Pengendalian Mutu Trilogy Juran 1. Quality planning Suatu proses yang mengidentifikasi pelanggan dan proses yang akan menyampaikan produk dan jasa dengan karakteristik yang tepat dan kemudian mentransfer pengetahuan ini ke seluruh kaki tangan perusahaan guna memuaskan pelanggan. Ini dilakukan untuk mempertahankan keloyalan pelanggan dengan cara menyediakan semua kebutuhan mereka, mengembangkan produk atau jasa sesuai dengan keinginan pelanggan, serta mengembangkan proses produksi barang dan jasa agar lebih efisien. . Langkah-langkah yang dibutuhkan antara lain : a. Merumuskan tujuan mutu b. Menentukan siapa yang menjadi pelanggan c. Mengindentifikasi kebutuhan para pelanggan d. Mengembangkan produk dengan keistimewaan yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan. e. Mengembangkan sistem dan proses yang memungkinkan organisasi untuk menghasilkan keistimewaan tersebut. b) Menyebarkan rencana kepada level operasional. 2. Quality control Suatu proses dimana produk benar-benar diperiksa dan dievaluasi, dibandingkan dengan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan para pelanggan. Persoalan yang telah diketahui kemudian dipecahkan. Pengendalian kualitas meliputi langkah-langkah sebagai berikut: a) Menilai kinerja kualitas actual b) Membandingkan kinerja dengan tujuan c) Bertindak menangani penyimpangan (perbedaan) Setelah dikendalikan kualitasnya, Juran’s mengemukakan tahap akhir manajemen mutu, yaitu 3. Quality improvement Suatu proses dimana mekanisme yang sudah mapan dipertahankan sehingga mutu dapat dicapai berkelanjutan. Hal ini meliputi alokasi sumber-sumber, menugaskan orang-orang untuk menyelesaikan proyek mutu, melatih para karyawan yang terlibat dalam proyek mutu dan pada umumnya menetapkan suatu struktur permanen untuk mengejar mutu dan mempertahankan apa yang telah dicapai sebelumnya. Metodologinya adalah serangkaian langkah universal: a) Mengembangkan infrastruktur yang diperlukan untuk melakukan perbaikan kualitas setiap tahun. b) Mengidentifikasi bagian-bagian yang membutuhkan perbaikan dan melakukan proyek perbaikan. c) Membentuk suatu tim proyek yang bertanggungjawab dalam menyelesaikan setiap proyek perbaikan. d) Memberikan tim-tim tersebut apa yang mereka butuhkan agar dapat mendiagnosis masalah guna menentukan sumber penyebab utama, memberikan solusi, dan melakukan pengendalian yang akan mempertahankan keuntungan yang diperoleh. Keempat unsur tersebut saling keterkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Jika salah satu unsur tersebut tidak ada maka akan terjadi kepincangan dan besar kemungkinan apa yang diharapkan itu tidak akan tercapai. 7. Menurut Deming mutu terletak pada masalah manajemen, masalah utama dalam dunia industry adalah kegagalan manajemen senior dalam menyusun perencanaan kedepan. Lima kendala dalam perbaikan mutu : a) Kurang Konstannya tujuan b) Pola Pikir Jangka Pendek: perlunya strategis logis jangka panjang c) Evaluasi prestasi individu melalui proses penilaian atau tinjauan kerja tahunan; menentang peilaian prestasi, sebab akan terjadi pandangan yang menyesatkan tentang sebuah proses, deming yakini penilaian yang terstruktur seringkali menimbulkan efek yang berlawanan dengan yang seharusnya d) Rotasi kerja yang terlalu tinggi e) Manajemen yang menggunakan prinsip angka yang tampak. Jika sekolah –sekolah hanya berorientasi pada daftar hasil ujian, maka mereka juga akan merasakan bahaya. Ukuran kesuksesan menurut deming adalah kegembiraan dan kepuasan pelanggan. Penyakit mematikan ( kendala- kendala pokok manajemen ) : Kaitkan dengan dunia pengelolaan pendidikan Penyakit mematikan ( kendala- kendala pokok manajemen ) yaitu : 1. Desain kurikulum yang lemah 2. Bangunan yang tidak layak pakai 3. Link kerja yang buruk 4. Sistem dan prosedur yang tidak sesuai 5. Jadwal kerja yang serampangan 6. SDM yang kurang 7. Pengembangan staf yang tidak memadai 8. Langkah-langkah dalam penyusunan program mutu menurut Crosby diantaranya : 1. Management commitment 2. Quality improvement team 3. Quality meassurement 4. Quality awareness. Pendapat saya pendapa dari Crosby sangat setuju. PROGRAM CROSBY : a. Management Commitment adalah inisiatif mutu haruslah diperlihatkan DEMING oleh top level manajemen, serta dikomunikasikan dalam sebuah kebijakan mutu yang singkat, jelas dan dapat dicapai. b. The Quality Improvement Team adalah tim peningkatan kualitas memiliki tugas untuk mengatur serta mengarahkan program yang akan diimplementasikan melalui institusi, namun tugas untuk mengimplementasikanya merupakan tanggung jawab tim dalam masing-masing bagian. c. Quality Measurement - pengukuran mutu diperlukan untuk mengukur ketidaksesuaian yang terjadi maupun yang akan terjadi dengan cara melakukan evaluasi dan perbaikan. d. Quality Awareness - merupakan langkah untuk menumbuhkan kesadaran akan setiap orang dalam institusi. Informasi mengenai program yang dilakukan untuk peningkatan kualitas haruslah dikomunikasikan.

0 komentar:

Posting Komentar

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.

Popular Posts