Selasa, 23 Desember 2014

pesantren

KONSEP PENDIDIKAN DIPESANTREN Sistem pendidikan modern yang berjalan saat ini pada kenyataanya hanya menghasilkan lulusan yang befikir materealistik, yang mayoritas jauh dari nilai-nilai agama, sedangkan system pendidikan tradisional atau yang sering dikenal dengan sebutan pesantren sekedar memberikan nilai-nilai keagamaan tanpa memberi bekal keterampilan bagi lulusannya untuk mampu menjawab tantangan perkembangan zaman, padahal idealnya kan lembaga pendidikan yang ada harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan sekaligus terikat pada nilai-nilai agama. Pada hakekatnya Tujuan pendidikan Islam adalah mencerdaskan akal dan membentuk jiwa yang islami, sehingga akan terwujud sosok pribadi muslim yang sejati dan yang berpengatahuan. Tentang hal ini, saya ingat tentang apa yang pernah dikatakan guru saya waktu MA, bahwa Rasulullah SAW itu mengizinkan siapapun untuk mempelajari ilmu pengetahuan,baik yang bersifat umum, ilmu teknik, engenering, industri dan sebagainya, pada suatu ketika beliau mengutus 2 orang sahabatnya ke negeri Yaman untuk mempelajari teknik pembuatan senjata yang mutakhir, terutama sejenis alat perang yang dinamakan dabbabah yang tersusun dari roda-roda dalam kesempatan lain Rosulullah SAW juga mendorong kepada kaum Muslimin untuk membuat dan mengembangkan teknik pembuatan busur-busur panah dan tombak, selain itu Rosul menganjurkan kaum wanita agar mempelajari ilmu tenun, menulis dan merawat orang-orang sakit. Kurang lebihnya seperti itu yang dikatakan guru saya. Berdasarkan problematika Pendidikan yang dihadapi, dan tuntunan Rosulullah untuk menuntut ilmu, serta untuk menjawab kebutuhan tenaga terampil untuk menghadapi dunia Globalisasi pada masa yang akan datang, maka disusunlah suatu rancangan pendidikan Pesantren Terpadu, yang memadukan unsur keterampilan, kemandirian (menejemen & kepemimpinan) dan kepribadian Islam, selanjutnya disebut Pesantren Modern Mafazah, lulusan Mafazah di harapkan nanti memiliki keterampilan yang berkepribadian Islam, berjiwa mandiri dan dapat diandalkan, Pesantren Modern Mafazah yang memadukan keterampilan, keislaman dan kemandirian, dapat digambarkan sebagai berikut : http://2.bp.blogspot.com/-23dgaUb7LJs/Tg6SQo_2AfI/AAAAAAAAACE/vslASDjB33k/s320/Graphic1.jpg Sedangkan Konsep Pendidikan Islam dan Pesantren menurut Manzoor Ahmed adalah pendidikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan individu-individu dari masyarakat untuk mentransformasikan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, dan bentuk-bentuk ideal kehidupan mereka kepada generasi muda untuk membantu mereka dalam meneruskan aktivitas kehidupan secara efektif dan berhasil”. Sharif Khan mendefinisikan maksud dan tujuan pendikan Islam sebagai berikut: 1. Memberikan pengajaran Al-Qur’an sebagai langkah pertama pendidikan. 2. Menanamkan pengertian-pengertian berdasarkan pada ajaran-ajaran fundamental Islam yang terwujud dalam Al-Qur’an dan Sunnah dan bahwa ajaran-ajaran ini bersifat abadi. 3. Memberikan pengertian-pengertian dalam bentuk pengetahuan dan skill dengan pemahaman yang jelas bahwa hal-hal tersebut dapat berubah sesuai dengan Perubahan- Perubahan dalam masyarakat. 4. Menanamkam pemahaman bahwa ilmu pengetahuan tanpa basis Iman dan Islam adalah pendidikan yang tidak utuh dan pincang. 5. Menciptakan generasi muda yang memiliki kekuatan baik dalam keimanan maupun dalam ilmu pengetahuan. 6. Mengembangkan manusia Islami yang berkualitas tinggi yang diakui secara universal. Pendekatan pendidikan Islam yang diajukan oleh kedua pakar pendidikan di atas tersimpul dalam First World Conference on Muslim Education yang diadakan di Makkah pada tahun 1997: “Tujuan daripada pendidikan (Islam) adalah menciptakan manusia “yang menyembah Allah” dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur pribadinya sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktivitas keseharian-nya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan. “Oleh karena itu, jelaslah bahwa yang dimaksud dengan pendidikan Islam disini bukanlah dalam arti pendidikan ilmu-ilmu agama Islam semata. Akan tetapi yang dimaksud dengan pendidikan Islam disini adalah menanamkan nilai-nilai fundamental Islam kepada setiap Muslim, terlepas dari disiplin ilmu apapun yang akan dikaji. Sehingga diharapkan akan bermunculan “anak-anak muda energik yang cerdik dan pandai. Berdasarkan kerangka nilai-nilai pendidikan Islam itu, kita mencoba berdialog dengan realitas sistem pendidikan, beserta seluruh unsur yang melekat pada pesantren, sebagaimana yang dengan detil dijabarkan diatas. Sampai batas-batas tertentu, pesantren telah berperan besar mengenalkan, menyebarkan dan mempertahankan Islam (dan nilai-nilai kemanusiaan) di Indonesia. Pola pendidikannya yang amat menekankan fleksibilitas memberi nilai-nilai positif pada pesantren untuk tetap eksis menghadapi perubahan zaman.Pendidikan pesantren muncul dan berkembang sesuai kebutuhan masyarakat sekitar. Bagaimana dengan metode dan materi pendidikan pesantren? Nah.... Pesantren memiliki tradisi pembelajaran tersendiri yang mmungkin telah berlangsung berabad-abad Layaknya dunia pendidikan pada umumnya, sebuah pesantren pada umumnya, sedikit banyak dinilai dengan memperhatikan dua hal penting yakni metode dan materi. Metode yang ideal tentunya mampu menjadi sarana penyampaian mareri dengan baik. Lebih dari itu bahkan mampu memberi pengantar bagi peserta didik untuk memberi materi secara mendalam untuk kemudian diserap sebagai logika yang dibangun secara mandiri. Sedangkan materi yang baik adalah paling tidak sesuai dengan kebutuhan dan dapat diterapkan. Ciri umum yang dapat diketahui pesantren memiliki kultur khas yang berbeda dengan budaya disekitarnya yaitu Cara pengajarannya yang unik. Mayoritas kalau di pesantren itu, seperti halnya di pesantren saya dulu, Sang kyai yang biasanya adalah pendiri sekaligus pemilik pesantren, membacakan “kitab kuning”, sementara para santri memberi mendengarkan sambil memberi catatan ( ngesahi atau ma’nani, jawa) pada kitab yang sedang dibaca. Metode ini disebut bandongan atau layanan kolektif. Selain itu para santri juga ditugaskan untuk membaca, sementara kyai atau ustadz yang sudah mumpuni menyimak sambil mengoreksi dan mengevaluasi bacaan dan performance seorang santri. Metode ini di kenal dengan istilah sorogan atau layanan individual. Kegiatan belajar mengajar di atas berlangsung tanpa perjenjangan kelas dan kurikulum yang ketat, dan biasanya dengan memisahkan jenis kelamin siswa. Tetapi kadang juga ada yang pada waktu mengaji itu campur (laki-laki dan perempuan) cuma ada kain sebagai penghalang agar tidak saling melihat antar lawan jenis atau yang sering disebut kain satir. Kayaknya cuma itu yang bisa saya sampaikan, apabila dalam penyampaian bahasanya agak sedikit nyleneh, yaaa dimaklumlah.......,kurang lebihnya mohon maaf. Semoga apa yang saya sampaikan bisa sedikit banyaknya memberi pengetahuan tentang pengajaran di pesantren yang kurang lebihnya seperti diatas tadi, kepada orang yang tidak atau belum pernah mondok. Sekian dari saya, TERIMA KASIH. Diposkan oleh fitriana hadi di 03.11

0 komentar:

Posting Komentar

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.

Popular Posts