Rabu, 03 Desember 2014

contoh tesis

BAB I PENDAHULUAN Latar BelakangIndeks pembangunan manusia yang mengalami penurunan sejak tahun 1995 sebagai berikut. Peringkat ke-104 pada tahun 1995, ke-109 pada tahun 2000, ke-110 pada tahun 2002, ke 112 pada tahun 2003, dan sedikit membaik pada peringkat ke-111 pada tahun 2004 dan peringkat ke-110 pada tahun 2005. Demikian pula dilihat dari dari hasil studi kemampuan membaca untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) yang dilaksanakan oleh International Educational Achievement (IEA) menunjukkan bahwa peserta didik SD di Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sementara untuk tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), studi untuk kemampuan matematika, peserta didik SLTP di Indonesia hanya berada pada urutan ke-39 dari 42 negara, dan untuk kemampuan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berada pada peringkat ke-40 dari 42 negara peserta (Bappenas, 2000). Keadaan tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kinerja guru. Beberapa hasil penelitian mengenai kinerja guru menyimpulkan bahwa “kinerja guru selama ini terkesan tidak optimal.” (Sagala, 2009 : 38). Guru melaksanakan tugasnya hanya sebagai kegiatan rutin. Hasil penelitian pendahuluan di beberapa SMA yang ada di Kota Tasikmalaya. Pada umumnya SMA masuk pukul 07.00 dan pulang pada pukul 13.00. Tetapi sering terjadi pukul 07.15 bahkan lebih, masih banyak pendidik di Kota Tasikmalaya yang masih dikendaraan menuju sekolah. Kenyataan tersebut diperkuat dengan pengakuan beberapa siswa, bahwa guru adakalanya masuk kelas pukul 07.30 pada jam pertama. Pada sisi lain, dalam melaksanakan proses pembelajaran (menurut pengakuan beberapa orang siswa SMA di Kota Tasikmalaya), guru masih dominan menerangkan. Kenyataan tersebut mengindikasikan kinerja guru masih berlangsung sebagaimana biasanya yaitu sebatas menyampaikan bahan ajar, belum membelajarkan peserta didik. Hasil penelitian pendahuluan juga mengungkap realitas kebiasaan peserta didik dalam belajar 80% sumber belajar tergantung pada guru di kelas. Pembelajaran oleh guru-guru dilaksanakan secara konvensional, belum menggunakan model pembelajaran yang bervariasi. Dilihat dari hasil belajar, kenyataannya masih belum mencapai hasil yang optimal, meskipun yang tertulis di raport sudah memenuhi kriteria ketuntasan minimal, tetapi belum diimbangi dengan aspek afektif dan psikomotor. Hasil analisis Depdiknas (2006 : 1) menunjukkan bahwa paling tidak ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata. Pertama, kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional yang berorientasi pada keluaran pendidikan (output) terlalu memusatkan pada masukan (input) dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan. Kedua, penyelengaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik. Hal ini menyebabkan tingginya ketergantungan kepada keputusan birokrasi dan seringkali kebijakan pusat terlalu umum dan kurang menyentuh atau kurang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah setempat. Di samping itu segala sesuatu yang terlalu diatur menyebabkan penyelenggara sekolah kehilangan kemandirian, insiatif, dan kreativitas. Hal tersebut menyebabkan usaha dan daya untuk mengembangkan atau meningkatkan mutu layanan dan keluaran pendidikan menjadi kurang termotivasi. Ketiga, peran serta masyarakat terutama orangtua peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini hanya terbatas pada dukungan dana. Padahal peranserta mereka sangat penting di dalam proses-proses pendidikan antara lain pengambilan keputusan, pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas. Guru sebagai salah satu faktor manusia dalam proses pembelajaran memiliki peran penting dalam merencanakan, melaksanan dan mengevaluasi hasil belajar, sehingga kinerja guru diduga akan berkontibusi pada mutu hasil belajar. Alasan lainnya adalah bahwa mutu hasil belajar tidak hanya dipengaruhi oleh kinerja dan kualitas proses belajar mengajar, tetapi juga bisa dipengaruhi oleh kultur belajar peserta didik, memberikan gambaran keberhasilan dan ketidak berhasilan lembaga dalam menyelenggarakan pendidikan. Identifikasi Masalah Permasalahan lain yang teridentifikasi seiring dengan latar belakang masalah tersebut adalah belum seragamnya pemahaman stakeholders, kepala sekolah, guru tenaga kependidikan dan komite sekolah tentang konsep kualitas pembelajaran yang diupayakan dicapai melalui penilaian berbasis kelas. Dampak langsungnya adalah terjadi kebingungan guru dalam bekerja dan belum tumbuhnya budaya membelajarkan peserta didik sebagaimana tuntutan kurikulum tingkat satuan pendidikan, akibatnya pada siswa, tidak tumbuh budaya belajar yang baik. Sebagai dampak dari belum memahami konsep kualitas belajar-mengajar, kultur belajar dan mutu hasil belajar, maka pelaksanaan analisis hasil evaluasi belum mengarah kepada konsep penilaian berbasis kelas. Penilaian yang tidak menyeluruh mengakibatkan kekeliruan dalam menafsirkan informasi, karena diambil dari data yang kurang lengkap atau bahkan informasi yang keliru karena penilaian belum didasarkan pada objek yang sesungguhnya secara konprehensip, mempertimbangkan berbagai aspek internal dan eksternal. Rumusan Masalah Berdasarkan bagan tersebut, maka permasalahan yang akan diteliti dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: Seberapa besar kontribusi kinerja guru terhadap kualitas proses belajar mengajar di SMA/MA Plus Pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya? Seberapa besar kontribusi kualitas proses belajar mengajar terhadap kultur belajar peserta didik di SMA/MA Plus Pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya? Seberapa besar kontribusi kinerja guru terhadap kultur belajar peserta didik di SMA/MA Plus Pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya? Seberapa besar kontribusi kinerja guru terhadap mutu hasil belajar peserta didik di SMA/MA Plus Pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya? Seberapa besar kontribusi kualitas proses belajar mengajar terhadap mutu hasil belajar peserta didik di SMA/MA Plus Pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya? Seberapa besar kontribusi kultur belajar peserta didik terhadap mutu hasil belajar peserta didik di SMA/MA Plus Pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya? Seberapa besar kontribusi kinerja guru, kualitas proses belajar mengajar dan kultur belajar siswa terhadap terhadap mutu hasil belajar peserta didik di SMA/MA Plus Pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya? Tujuan Penelitian Untuk mengetahui tentang: Kontribusi kinerja guru terhadap kualitas proses belajar mengajar di SMA/MA Plus Pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya. Kontribusi kualitas proses belajar mengajar terhadap kultur belajar peserta didik di SMA/MA Plus Pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya. Kontribusi kinerja guru terhadap kultur belajar peserta didik di SMA/MA Plus Pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya. Kontribusi kinerja guru terhadap mutu hasil belajar peserta didik di SMA/MA Plus Pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya. Kontribusi kualitas proses belajar mengajar terhadap mutu hasil belajar peserta didik di SMA/MA Plus Pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya. Kontribusi kultur belajar peserta didik terhadap mutu hasil belajar peserta didik di SMA/MA Plus Pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya. Manfaat Penelitian Secara teoretis: menambah khazanah pengetahuan yang berhubungan dengan kinerja guru, kualitas proses belajar mengajar, kultur belajar peserta didik, dan mutu hasil belajar dalam konteks penilaian berbasis kelas. Secara empiris: Bagi pengambil kebijakan pendidikan, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama atau departemen lain yang menyelenggarakan pendidikan, diharapkan dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai salah satu pertimbangan dalam menyelenggarakan penilaian pendidikan, rekruitmen tenaga pendidik, peningkatan kualitas pembelajaran dan penciptaan kultur belajar bagi peserta didik. Bagi sekolah-sekolah yang diteliti, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kinerja guru, proses belajar mengajar, kultur belajar dan mutu hasil belajar dalam konteks penilaian berbasis kelas. Bagi guru-guru, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk mempelajari berbagai hal yang berhubungan dengan kinerja guru, kualitas proses belajar mengajar, kultur belajar dan peningkatan mutu hasil belajar serta pemanfaatannya dalam proses pembelajar yang lebih berkualitas dalam konteks penilaian berbasis kelas Variabel Penelitian Empat variabel, pertama variabel kinerja guru disimbolisasi dengan X1. Variabel kedua kualitas proses belajar mengajar, disimbolisasi dengan X2. Variabel ketiga kultur belajar peserta didik, disimbolisasi dengan X3. Dan mutu hasil belajar peserta didik disimbolisasi dengan Y. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi : 4 orang kepala, 137 guru, 12 orang staf Tata Usaha dan 27 Komite Sekolah. Sampel : kepala sekolah 100% x 4 = 4 orang, guru 137 x 25% = 35 orang, staf tata usaha 100% x 12 = 12 orang dan komite sekolah 50% x 27 =14 (dibulatkan). Jadi jumlah sampel penelitian ini adalah 65 orang.   BAB II Teori dan Konsep Teori Teori Kinerja Guru Kinerja guru dalam kontek penilaian berbasis kelas dilandasi oleh teori profesionalisme. Dalam pandangan profesionalisme, bahwa setiap pekerjaan perlu dilakukan oleh orang yang ahli. Hadits Nabi yang artinya “jika suatu urusan dikerjakan oleh yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya” (dalam Al-Munawar, 2003 : 248) ideal menjadi landasan teori kinerja guru yang memang sejalan dengan teori profesionalisme. perilaku profesional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: Mengacu kepada ilmu pengetahuan Berorientasi kepada interest masyarakat (klien) bukan interest pribadi. Pengendalian perulaku diri sendiri dengan mepergunakan kode etik. Imbalan atau kompensasi uang atau kehormatan merupakan simbol prestasi kerja bukan tujuan dari profesi. Salah satu aspek dari perilaku profesional adalah otonomi atau kemandirian dalam melaksanakan profesinya. Pada proses pembelajaran di lembaga pendidikan persekolahan, kinerja guru digambarkan dengan kompetensi tenaga pendidik yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi professional, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian. Teori Kualitas Proses Belajar Mengajar Kualitas proses belajar mengajar didasarkan pada teori mutu pendidikan yang dikembangkan oleh Edwar Sallis. Menurut pandangannya proses belajar dikatakan bermutu apabila para siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat, komunikator yang baik, punya keterampilan teknologi untuk lapangan kerja dan kehidupan sehari-hari, memiliki inrtegritas pribadi, mampu memecahan masalah dan menjadi warga negara yang bertanggungjawab. Para siswa menjadi manusia dewasa yang bertanggungjawab akan hidupnya. Gasperz (dalam Nasution, 2002 : 90) mengidentifikasi enam komponen penting untuk manajemen proses, yaitu berikut: Kepemilikan, menugaskan tanggung jawab untuk desain, operasi, dan perbaikan proses. Perencanaan, menetapkan suatu pendekatan terstruktur dan disiplin untuk mengerti, mendefinisikan, dan mendokumentasikan semua komponen utama dalam proses dan hubungan antarkomponen utama. pengendalian dan menjamin efektivitas, dimana suatu output dapat diperkirakan dan konsisten dengan harapan pelanggan. Pengukuran, menetapkan perfomansi atribut terhadap kebutuhan pelanggan dan menetapkan kriteria untuk akurasi, presisi, dan frekuensi perolehan data. Perbaikan atau peningkatan, meningkatkan efektivitas dari proses melalui perbaikan-perbaikan yang didefinisikan secara tetap. Optimalisasi, meningkatkan efesiensi dan produktivitas melalui perbaikan-perbaikan yang didefinisikan secara tetap. Teori Kultur Belajar Kultur belajar dalam konteks penilaian berbasis kelas dilandasi oleh teori psikologi humanistik yang “muncul pada tahun 1940-an dengan tokoh utamanya adalah Carl Roger” (http:\www.education_pskologi_php\file.co.id.) dari beberapa ahli psikologi yang berkecimpung dalam bidang klinik, pekerja sosial dan konseling. Aliran ini disebut dengan psikologi humanistik, eksistensial, perseptual atau fenomenologis. Aliran ini berusaha memahami perulaku seseorang dari sudut yang diamati bukan dari sudut yang mengamati. Fokus orientasi psikologi humanistik ini adalah bagaimana individu dipengaruhi atau dibimbing oleh maksud dan tujuan pribadinya serta pengalamannya sendiri. Teori Mutu Hasil belajar Mutu hasil belajar dalam konteks penilaian berbasis kelas dilandasi oleh teori efektivitas yang dikemukakan oleh Edmonds dari Harvard University. Berdasarkan teori tersebut, mutu hasil belajar terlihat dari karakteristik kepemimpinan, harapan tinggi terhadap prestasi belajar, penekanan terhadap keterampilan dasar, keteraturan pengendalian, dan penilaian yang memadai terhadap hasil belajar peserta didik. Dilihat dari karakteristik produk mutu hasil belajar terdiri dari enam aspek, yaitu: Fungsional, terkait dengan kegunaan. Temporal, seperti tepat waktu, ketersediaan, akurat dll. Phisikal, seperti mekanik, elektrik, kimia ,fiisika dll Sensory, berkaitan dengan panca indra. Behavorial, berkaitan dengan sifat seperti sopan santun, disiplin, kejujuran dll. Ergonomic, berkaitan dengan keselamatan, kenyamanan dan kesehatan Konsep Konsep kinerja Kinerja adalah perilaku yang menunjukkan kompetensi yang relevan dengan tugas yang realistis dan gambaran perilaku difokuskan pada konteks pekerjaan yaitu perilaku diwujudkan untuk memperjelas deskripsi-deskripsi kerja menentukan kinerja yang akan memenuhi kebutuhan organisasi yang diinginkan. Kinerja adalah manifestasi hasil karya yang dicapai oleh suatu institusi. Ukuran keberhasilan suatu institusi mencakup seluruh kegiatan setelah melalui uji tuntas terhadap tujuan usaha yang telah ditetapkan dan dilaksanakan. Dari pengertian tersebut tercakup beberapa unsur penting yang ada dalam suatu kinerja. Pertama, adanya institusi, baik berupa lembaga (institut) seperti organisasi atau pranata seperti sistem pengaturan. Kedua, adanya tujuan yang telah ditetapkan dan diusahakan mencapaiannya. Ketiga, adanya instrumen yang digunakan dalam pelaksanaan uji tuntas. Konsep Kualitas Belajar Mengajar Kualitas berkaitan dengan baik buruk suatu benda; kadar; atau derajat misalnya kepandaian, kecerdasan dan sebagainya. Secara umum kualitas atau mutu adalah “gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau tersirat.” (Depdiknas. 2001: 768). Pendidikan berkualitas apabila : a) Pelanggan internal (kepala sekolah, guru dan karyawan sekolah) berkembang baik fisik maupun psikis. Secara fisik antara lain mendapatkan imbalan finansial. Sedangkan secara psikis adalah bila mereka diberi kesempatan untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan, bakat dan kreatifitasnya. b) Pelanggan eksternal: (1) Eksternal primer (parapeserta didik): menjadi pembelajar sepanjang hayat, komunikator yang baik dalam bahasa nasional maupun internasional, punya keterampilan teknologi untuk lapangan kerja dan kehidupan sehari-hari, integritas pribadi, pemecahan masalah dan penciptaan pengetahuan, menjadi warga negara yang bertanggungjawab. Parapeserta didik menjadi manusia dewasa yang bertanggungjawab akan hidupnya. (2) Eksternal sekunder (orang tua, para pemimpin pemerintahan dan perusahan); para lulusan dapat memenuhi harapan orang tua, pemerintah dan pemimpin perusahan dalam hal menjalankan tugas-tugas dan pekerjaan yang diberikan. (3) Eksternal tersier (pasar kerja dan masyarakat luas); para lulusan memiliki kompetensi dalam dunia kerja dan dalam pengembangan masyarakat sehingga mempengaruhi pada pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial (Nurholis, 2003 : 57) Konsep Kultur belajar atau budaya belajar dalam konteks penilaian berbasis kelas adalah cipta, karsa, dan rasa yang diwujudkan dalam aktivitas-aktivitas yang menjadi kebiasaan belajar peserta didik di dalam kelas, sehingga mereka memiliki ilmu pengetahuan, mengalami perubahan sikap dan perilaku dari negative menjadi positif.   BAB III Lokasi Penelitian SMA Plus Pesantren Riyadul Ulum Wadakwah Condong, SMA Plus Peasntren Persis 67 Benda, SMA Plus Pesantren Amanah Muhamadiyah Kawalu, MA Plus Pesantren Al-Amin Kawalu. Sumber Data Kepala SMA dan MA Plus Pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya, Guru-guru di sekolah/madrasah tersebut, dan staf tata usaha. Adapun sumber data skundernya adalah komite sekolah dokumentasi dan kondisi objektif yang dapat diobservasi sehubungan dengan kinerja guru, kualitas proses belajar-mengajar, kultur belajar dan mutu hasil belajar di SMA dan MA Plus Pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya. Populasi Tabel 3.1. Populasi Penelitian Nama Sekolah Jumlah Jumlah Populasi Kep. Sek. Guru Staf TU Komite SMA Riadul Ulum Wadakwah 1 30 3 6 40 MA Al-Amin 1 46 3 8 58 SMA Amanah 1 31 3 7 42 SMA Persis Benda 1 30 3 6 40 Jumlah 4 137 12 27 180 Sampel Tidak seluruh populasi diteliti, melainkan dilakukan penelitian dengan menggunakan sampel, yaitu menentukan wakil dari objek penelitian yang representatif terhadap populasinya. Teknik sampling yang digunakan yaitu random sampling dengan jumlah sebagai berikut, kepala sekolah 100% x 4 = 4 orang, guru 137 x 25% = 35 orang, staf tata usaha 100% x 12 = 12 orang dan komite sekolah 50% x 27 =14 (dibulatkan). Jadi jumlah sampel penelitian ini adalah 65 orang. Lebih jelasnya mengenai sampel penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut. Tabel 3.2. Sampel Penelitian Nama Sekolah Jumlah Jumlah Populasi Kep. Sek. Guru Staf TU Komite SMA Riadul Ulum Wadakwah 1 8 3 3 15 MA Al-Amin 1 11 3 4 19 SMA Amanah 1 8 3 4 16 SMA Persis Benda 1 8 3 3 15 Jumlah 4 35 12 14 65 Metode penelitian : deskriptif kuantitatif yakni suatu metode pemaparan tentang suatu kondisi, keadaan, hal dan sebagainya yang terjadi saat ini. Tahap penelitian: Persiapan, Pelaksanaan, Analisis Data, Pelaporan Hasil Penelitian. Menentukan Rata-rata M=(∑▒fX)/(N (Jumlah responden)) Hasil hitung rata-rata ditafsirkan dengan menggunakan skala lima norma absolute sebagai berikut: 0,5 – 1,5 = sangat rendah / sangat jelek 1,5 – 2,5 = rendah / jelek 2,5 – 3,5 = cukup 3,5 – 4,5 = tinggi / baik 4,5 – 5,5 = sangat tinggi / sangat baik Standar deviasi atau simpangan baku dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : SD = √((∑▒〖fx〗^2 )/n- [(∑▒fx)/n ]^2 ) Uji Normalitas Distribusi Data Menghitung chi kuadrat dengan rumus sebagai berikut: ^( 2)= ((oi-ei)^2)/ei Membandingkan chi kuadrat dengan chi kuadrat tabel Jika chi kuadrat hitung lebih kecil dibanding chi kuadrat tabel, maka data tergolong berdistribusi normal, sedangkan dalam keadaan sebaliknya normalitas distribusi ditolak. Angka chi kuadrat tabel ditentukan dengan db = k-3 dan taraf signifikansi 5%. Analisis Korelasioner Analisis data dengan korelasi product moment, harus memenuhi kriteria distribusi data harus normal dan regresinya harus linier. Oleh karena itu, sebelum analisis korelasioner dilakukan, harus dibuktikan apakah data memiliki regresi yang linier atau sebaliknya. Untuk menentukan apakah data tergolong linier atau tidak, dihitung dengan menggunakan persamaan regresi dan uji linieritas regresi. Persamaan regresi (Σ X² ) (Σ Y) - (Σ X) (Σ XY) Ŷ = a + bX dengan a = N . (Σ X² ) - (Σ X) ² N . Σ XY - (Σ X) (ΣY) b = N . (Σ X² ) - (Σ X) ² Linieritas Regresi Linieritas regresi ditentukan dengan menghitung F tc. Jika terbukti F tc lebih kecil daripada F tabel pada taraf signifikansi 5%, maka data tergolong memiliki regresi yang linier. Adapun dalam keadaan sebaliknya atau angka Ftc dengan F tabel sama, maka data tidak tergolong memiliki regresi yang linier. Menghitung Korelasi Rumus korelasi product moment yang akan digunakan adalah sebagai berikut : N . Σ XY - (Σ X) (Σ Y) r = XY N . (Σ X2 ) - (Σ X)2 - N (Σ Y2) - (Σ Y)2 Jika tidak memenuhi kriteria pengujian product moment korelasi akan dilakukan dengan rumus rank spearman dengan rumus sebagai berikut: 6 . Σ b² r' = 1- (Nurgana, 1982 : 40) n (n² - 1) Tabel 3.2 Konversi Angka Korelasi Rank Guilford Uji Signifikansi Korelasi dan Pengujian Hipotesis Angka t hitung diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai berikut: r n - 2 t = 1 - r² (Sudjana, 1990 : 324). Perbandingan t hitung dengan t tabel pada taraf signifikansi tersebut menjadi alat ukur penerimaan atau penolakan hipotesis sebagaimana dirumuskan pada bab I. Adapun criteria penerimaan dan penolakannya adalah sebagai berikut; Terima Ho jika terbukti thitung < t(1- ½ ). Tolak Ho jika terbukti thitung  t(1- ½ ) Proses penghitungan statistik dengan rumus-rumus yang telah dijelaskan, akan dilakukan dengan menggunakan program SPSS 16.   BAB IV dab Bab V Hasil uji validitas instrument penelitian diketahui valid. Hasil uji reliabilitas instrument diketahui reliable. Kinerja guru di SMA/MA Plus Pesantren Kota Tasikmalaya dalam konteks Penilaian Berbasis Kelas, menghasilkan angka rata-rata 3,43. Angka rata-rata berkualifikasi cukup baik. Berdasarkan data tersebut maka disimpulkan bahwa kinerja guru di SMA/MA Plus Pesantren Kota Tasikmalaya tergolong cukup baik. Kondisi kinerja guru dengan kualitas tersebut perlu ditingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan yang secara khusus dilakukan untuk meningkatkan kinerja, baik dengan jalan maggang di sekolah-sekolah yang lebih maju, menyekolahkan tenaga pendidik ke jenjang yang lebih tinggi dan mengadakan studi banding ke sekolah-sekolah lain. Kualitas proses belajar di SMA/MA Plus Pesantren Kota Tasikmalaya dalam konteks Penilaian Berbasis Kelas, menghasilkan angka rata-rata 3,46. Angka rata-rata tersebut dalam skala penilaian, terletak pada rentang 2,5 – 3,5 dengan kualifikasi cukup baik. Berdasarkan data tersebut maka disimpulkan bahwa kualitas proses belajar di sekolah tersebut tergolong cukup baik. Kualitas belajar yang baik akan meningkatkan kualitas pembelajaran, oleh sebab itu disarankan kepada para pendidik di SMA/MA Plus Pesantren di Kota Tasikmalaya pada khsususnya untuk meningkatkan proses belajar mengajar dengan menerapkan model dan pendekatan-pendekatan yang baru dalam pembelajaran serta menggunakan media pembelajaran modern secara rutin. Kultur belajar di SMA/MA Plus Pesantren Kota Tasikmalaya dalam konteks Penilaian Berbasis Kelas, menghasilkan angka rata-rata 3,42. Angka rata-rata tersebut dalam skala penilaian terletak pada rentang 2,5 – 3,5 dengan kualifikasi cukup baik. Berdasarkan data tersebut maka disimpulkan bahwa kultur belajar di sekolah tersebut tergolong cukup baik. Kultur belajar perlu diciptakan sehingga dalam melaksanakan proses belajar, siswa di kelas maupun di luar kelas merasa nyaman, mampu mambangkitkan kreativitas dan aktivitas yang bermanfaat sebagai wujud pengungkapan ide, gagasan dan pemahaman. Mutu hasil belajar di SMA/MA Plus Pesantren Kota Tasikmalaya dalam konteks Penilaian Berbasis Kelas, menghasilkan angka rata-rata 3,26. Angka rata-rata tersebut dalam skala penilaian terletak pada rentang 2,5 – 3,5 dengan kualifikasi cukup baik. Berdasarkan data tersebut maka disimpulkan bahwa mutu hasil belajar di sekolah tersebut tergolong cukup baik. Mutu yang baik ditandai dengan keterlibatan seluruh aspek pembelajaran dalam proses belajar. Oleh sebab itu daisarankan kepada guru-guru di SMA/MA Plus Pesantren Kota TAsikmalaya untuk melibatkan seluruh komponen pembelajaran, memanfaatkan secara optimal tentang sarana, sumber belajar dan media pembelajaran. Kontribusi kinerja guru terhadap kualitas proses belajar mengajar ditunjukkan dengan dugaan peningkatan 0.44%. Kontribusi kinerja guru terhadap kualitas proses belajar mengajar ditunjukkan dengan angka korelasi 0.66. Angka r hitung lebih besar dibanding r tabel pada taraf signifikansi 5%. Dengan demikain disimpulkan bahwa hipotesis yang menyatakan adanya kontribusi kinerja guru terhadap kualitas proses belajar mengajar dapat diterima. Berdasarkan simpulan tersebut disarankan agar ada upaya nyata peningkatan kinerja guru, dalam hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan dan latihan secara khusus berkenaan dengan kompetensi yang perlu dikuasai guru, kode etik guru dan tata tertib dalam melaksanakan pembelajaran. Kontribusi kinerja guru terhadap kultur belajar ditunjukkan dengan dugaan peningkatan 0.37%. Dengan angka korelasi 0.60. Angka r hitung lebih besar dibanding r tabel pada taraf signifikansi 5%. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan adanya kontribusi kinerja guru terhadap mutu hasil belajar diterima. Dalam hal ini direkomendasikan kepada guru-guru, kepala sekolah agar kultur belajar peserta didik berkembang lebih baik, perlu melakkukan pembiasaan dalam belajar, sehingga tidak berkutat pada tataran teoretis, tetapi mampu diterapkan dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. Kontribusi kinerja guru terhadap mutu hasil belajar ditunjukkan dengan dugaan peningkatan 47%. Angka korelasi 0.69. Angka r hitung lebih besar dibanding r tabel pada taraf signifikansi 5%. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan adanya kontribusi kualitas proses belajar terhadap kultur belajar diterima. Cukup berartinya kontribusi kinerja guru terhadap muru hasil belajar mengindikasikan pentingnya guru untuk memperhatikan kinerjanya sendiri, apakah sudah memiliki kompetensi yang dibutuhkan atau masih banyak hal yang perlu dikuasai. Lembaga penyelenggara pendidikan perlu membantu dan memfasilitasi para guru dalam mengembangkan kinerjanya. Kontribusi kualitas proses belajar mengajar terhadap kultur belajar ditunjukkan dengan dugaan peningkatan 0.67%. Angka korelasi 0.73. lebih besar dibanding r tabel pada taraf signifikansi 5%. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan adanya kontribusi kualitas proses belajar terhadap mutu hasil belajar diterima. Proses belajar mengajar akan membentuk kultur belajar, oleh sebab itu disarankan kepada para siswa untuk melakukan pembelajaran dengan memperhatikan arahan belajar dari guru, mengkaji cara-cara belajar efektif, dan mencoba melakukan kegiatan belajar kelompok secara berkesinambungan. Kontribusi kualitas proses belajar mengajar terhadap mutu hasil belajar ditunjukkan dengan dugaan peningkatan 77%. Dengan angka korelasi 0.77 lebih besar dibanding r tabel pada taraf signifikansi 5% Dengan demikian hipotesis yang menyatakan adanya kontribusi kultur belajar terhadap mutu hasil belajar terbukti. Mutu hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kualitas proses belajar mengajar. Dengan demikian disarankan kepada guru, siswa, penanggung jawab pendidikan, dan pemerintah untuk meningkatkan proses belajar mengajar dan mutu hasil melalui cara-cara yang betul-betul meningkatkan kemampuan peserta didik, bukan dengan cara melakukan katrol terhadap angka-angka. Kontribusi Kultur Belajar terhadap mutu hasil belajar ditunjukkan dengan dugaan peningkatan 88%. Dengan angka korelasi 0.80 lebih besar dibanding r tabel pada taraf signifikansi 5% Dengan demikian hipotesis yang menyatakan adanya kontribusi kultur belajar terhadap mutu hasil belajar terbukti. Besarnya dugaan peningkatan kultur belajar terhadap mutu hasil belajar mengarahkan kepada rekomendasi untuk membentuk kultur-kultur belajar yang lebih baik melalui praktik-praktik langsung penerapan model, pendekatan dan strategi pembelajaran.

0 komentar:

Posting Komentar

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.

Popular Posts