Kamis, 20 November 2014

kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan motivasi kerja guru oleh : lia yuliana,M.Pd



KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM
MENINGKATKAN MOTIVASI KERJA GURU
Oleh: Lia Yuliana, M.Pd*)
Pendahuluan
Sumber daya manusia yang handal tidak lepas dari pengaruh pola
kepemimpinan yang diterapkan dalam sebuah organisasi. Kepemimpinan merupakan
suatu proses yang mengandung unsur mempengaruhi, adanya kerjasama dan
mengarah pada suatu hal dan tujuan bersama dalam sebuah organisasi.
Kepemimpinan mempunyai peranan sentral dalam dinamika kehidupan organisasi.
Kepemimpinan berperan sebagai penggerak segala sumber daya manusia dan sumber
daya lain yang ada dalam organisasi. ( Arifin, 2004: 23 )
Keberhasilan organisasi mencapai tujuan yang telah ditetapkan akan sangat
tergantung berperannya kepemimpinan. Demikian halnya kepemimpinan dalam
sebuah organisasi sekolah, pola kepemimpinan yang diterapkan oleh kepala sekolah
sebagai pemimpin akan sangat berpengaruh dalam menentukan arah dan kebijakan
pendidikan yang dibangun.
Untuk kepentingan tersebut kepala sekolah selayaknya mampu memobilisasi
atau memberdayakan semua potensi dan sumber daya yang dimiliki, terkait dengan
berbagai program, proses, evaluasi, pengembangan kurikulum, pembelajaran di
sekolah, pengolahan tenaga kependidikan, sarana prasarana, pelayanan terhadap
siswa, hubungan dengan masyarakat, sampai pada penciptaan iklim sekolah yang
kondusif. Semua ini akan terlaksana manakala kepala sekolah memiliki kemampuan
untuk mempengaruhi semua pihak yang terlibat dalam kegiatan pendidikan di
sekolah, yaitu untuk bekerjasama dalam mewujudkan tujuan sekolah. Berdasarkan
data di situs internet sebagai berikut:
"Kepala sekolah harus mampu menggerakkan staf guru dan staf tata usaha
untuk melaksanakan fungsi supervisi." "Kepala sekolah bertanggungjawab atas
penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga
) Staf Pengajar Prodi Manajemen Pendidikan FIP UNY
2
pendidikan dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana prasarana".( Slamet, 2000:
46)
Kemampuan seorang kepala sekolah dalam memimpin akan sangat
berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja guru. Apabila kepala sekolah selaku
pimpinan dalam menjalankan tugasnya kurang baik, akan berakibat kurangnya
motivasi kerja para guru, sehingga akan mempengaruhi efektivitas kerja guru, maka
peran pemimpin sangat penting sebab pemimpin memegang peran dalam menentukan
tercapai atau tidaknya tujuan sekolah/organisasi tersebut
Motivasi kerja yang tinggi dalam sebuah organisasi sekolah akan berdampak
positif yaitu tercapainya tujuan yang telah ditentukan oleh organisasi sekolah. Agar
motivasi kerja dapat dioptimalkan dalam organisasi sekolah maka perlu diketahui
faktor-faktor apa sajakah yang dapat mempengaruhi motivasi kerja itu. Faktor-faktor
itu meliputi faktor internal yang bersumber dari dalam individu dan faktor eksternal
yang bersumber dari luar individu itu seperti sikap terhadap pekerjaan, bakat, minat,
kepuasan, pengalaman, dan lain-lain serta faktor dari luar individu yang bersangkutan
seperti pengawasan, gaji, lingkungan kerja, kepemimpinan. ( Wahjosumidjo, 2001:
42)
Kurangnya motivasi kerja yang dimiliki para guru dalam menjalankan
tugasnya. Beberapa hal yang dapat diketahui antara lain: (1) Dalam menjalankan
tugas masih tergantung pada pengawasan kepala sekolah, (2) Dalam memasuki kelas
untuk mengajar masih ada yang terlambat, belum sesuai waktu yang ditentukan, (3)
Pada saat guru tidak dapat mengajar, guru hanya memberikan catatan kepada anak
didik.
Untuk mampu mendorong siswa belajar lebih aktif, sehingga mampu
menciptakan visi dan misi sekolah, serta mampu meningkatkan prestasi belajar siswa
sesuai tujuan yang telah ditetapkan, maka motivasi kerja guru perlu ditingkatkan.
Guru yang mempunyai tingkat motivasi yang rendah mereka tidak dapat
menyelesaikan tugas pekerjaan yang diberikan kepadanya dengan hasil yang baik,
) Staf Pengajar Prodi Manajemen Pendidikan FIP UNY
3
sehingga keadaan ini akan menimbulkan hambatan dalam pencapaian hasil pekerjaan
atau akan mempengaruhi efektivitas kerja guru.
Definisi Kepemimpinan
Menurut Kartini Kartono (1990:20) mendefinisikan kepemimpinan sebagai
berikut:
"Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan
khususnya kecakapan-kelebihan di satu bidang, sehingga dia mampu
mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitasaktivitas
tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.
Arifin Abdulrachman (2004:16) berpendapat bahwa:
"tidak semua pemimpin akan dapat mempengaruhi dan menggerakkan orang lain
dalam rangka mencapai suatu tujuan secara efektif dan efisien, sebab orang lain baru
dapat dipengaruhi/digerakkan jika:
a. Ada kemampuan pada pemimpin untuk menggunakan teknik kepemimpinan.
b.Ada sifat-sifat khusus pada pemimpin yaitu sifat-sifat kepemimpinan yang
mempengaruhi jiwa orang-orang sehingga kagum dan tertarik pada pemimpin
tersebut".
Dengan demikian dapat diketahui bahwa untuk dapat mempengaruhi atau
menggerakkan orang lain agar dengan penuh kesadaran dan senang hati bersedia
melakukan dan mengikuti kehendak pemimpin maka pemimpin tersebut harus
memiliki kemampuan dan memiliki sifat-sifat khusus.
Sedangkan sifat-sifat yang harus dimiliki pemimpin menurut Harold Koontz
dan Cyrill O’Donnell (1990:21), yaitu:
a. Memiliki kecerdasan melebihi orang-orang yang dipimpinnya.
b. Mempunyai perhatian terhadap kepentingan yang menyeluruh.
c. Mantap dalam kelancaran berbicara.
d. Mantap berpikir dan emosi.
e. Mempunyai dorongan yang kuat dari dalam untuk memimpin.
) Staf Pengajar Prodi Manajemen Pendidikan FIP UNY
4
f. Memahami kepentingan tentang kerjasama.
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan
adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh seseorang untuk mempengaruhi,
menggerakkan dan mengarahkan orang lain agar dengan penuh pengertian, kesadaran
dan senang hati bersedia mengikuti kehendaknya tersebut untuk mewujudkan suatu
tujuan bersama.
Studi kepemimpinan yang dilakukan oleh Universitas Ohio dan Universitas
Michigan maupun yang dilakukan oleh Tannenbaum dan Schmidt seperti dikutip oleh
Wahjosumidjo, semuanya berusaha mencari gaya kepemimpinan yang efektif.
(2001:40). Berkaitan dengan masalah gaya kepemimpinan, Ngalim Purwanto (1992,
48-50) membagi tiga gaya kepemimpinan yang pokok yaitu gaya kepemimpinan
Otokratis, Demokratis, Laissez faire.
a. Gaya Kepemimpinan Otokratis
Gaya kepemimpinan Otokratis ini meletakkan seorang pemimpin sebagai
sumber kebijakan. Pemimpin merupakan segala-galanya. Bawahan dipandang
sebagai orang yang melaksanakan perintah. Oleh karena itu bawahan-bawahan
hanya menerima instruksi saja dan tidak diperkenankan membantah maupun
mengeluarkan ide atau pendapat. Dalam posisi demikian anggota atau bawahan
tidak terlibat dalam soal keorganisasian. Pada tipe kepemimpinan ini segala
sesuatunya ditentukan oleh pemimpin sehingga keberhasilan organisasi terletak
pada pemimpin.
b. Gaya Kepemimpinan Demokratis
Gaya kepemimpinan ini memberikan tanggungjawab dan wewenang kepada
semua pihak, sehingga ikut terlibat aktif dalam organisasi, anggota diberi
kesempatan untuk memberikan usul serta saran dan kritik demi kemajuan
organisasi. Gaya kepemimpinan ini memandang bawahan sebagai bagian dari
keseluruhan organisasinya, sehingga mendapat tempat sesuai dengan harkat dan
martabatnya sebagai manusia. Pemimpin mempunyai tanggungjawab dan tugas
untuk mengarahkan, mengontrol dan mengevaluasi serta mengkoordinasi.
) Staf Pengajar Prodi Manajemen Pendidikan FIP UNY
5
c. Gaya Kepemimpinan Laissez faire
Pada prinsipnya gaya kepemimpinan ini memberikan kebebasan mutlak
kepada para bawahan. Semua keputusan dalam pelaksanaan tugas dan pekerjaan
diserahkan sepenuhnya kepada bawahan. Dalam hal ini pemimpin bersifat pasif
dan tidak memberikan contoh-contoh kepemimpinan. (Ngalim Purwanto, 1992:
48-50)
Dari beberapa gaya kepemimpinan tersebut akan mempunyai tingkat
efektivitas yang berbeda-beda, tergantung pada faktor yang mempengaruhi
perilaku pemimpin. Seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya
sangat dipengaruhi oleh faktor, baik yang berasal dari dalam diri pribadinya
maupun faktor yang berasal dari luar individu pemimpin tersebut.
Kepemimpinan Kepala Sekolah
Kepemimpinan kepala sekolah berperan sebagai motor penggerak sekaligus
penentu arah kebijakan sekolah yang akan menentukan cara pencapaian tujuan-tujuan
sekolah dan pendidikan (Mulyasa, 2004:126).
Untuk mencapai efektivitas dalam kepemimpinannya, kepala sekolah harus
memiliki tiga keterampilan konseptual berkaitan dengan keterampilan untuk
memahami dan mengoperasikan organisasi. Keterampilan manusiawi berkaitan
dengan keterampilan bekerjasama, memotivasi dan memimpin. Keterampilan teknis
berkaitan dengan keterampilan dalam menggunakan pengetahuan, metode, teknik,
dan perlengkapan untuk menyelesaikan tugas tertentu. Menurut Mulyasa (2004: 32),
yaitu:
a. Belajar dari pekerjaan sehari-hari terutama dari cara kerja para guru dan
pegawai sekolah lainnya.
b. Melakukan observasi kegiatan manajemen secara terencana.
c. Membaca berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang sedang
dilaksanakan.
) Staf Pengajar Prodi Manajemen Pendidikan FIP UNY
6
d. Memanfaatkan hasil-hasil penelitian orang lain.
e. berpikir untuk masa yang akan datang dan
f. Merumuskan ide-ide yang dapat diujicobakan.
Kepala sekolah merupakan pejabat formal, manajer, pemimpin dan pendidik.
Jabatan kepala sekolah memerlukan persyaratan universal yang harus dipenuhi.
Persyaratan tersebut meliputi keahlian atau kemampuan dasar dan sifat atau watak.
Selain persyaratan universal juga terdapat persyaratan khusus yang meliputi berbagai
macam kemampuan seperti penguasaan terhadap tugas dan keterampilan profesional
dan kompetensi administrasi dan pengawasan. Kemampuan-kemampuan yang harus
dimiliki oleh kepala sekolah dalam menjalankan kepemimpinan situasional dapat
dijelaskan seperti berikut
a. Keahlian atau kemampuan dasar
Menurut Tracey (1999), seperti yang dikutip oleh Wahjosumidjo (2004:
386) menjelaskan keahlian atau kemampuan dasar sebagai kelompok kemampuan
yang harus dimiliki oleh tingkat pemimpin yang mencakup: technical, human dan
conceptual skill (the basic and developable skills).
1) Technical skill yaitu kecakapan spesifik tentang proses, prosedur, atau teknikteknik
yang merupakan kecakapan khusus dalam menganalisis hal-hal yang
khusus. Technical skills menunjukkan kecakapan yang berhubungan dengan
barang, sedangkan
2) Human skills menunjukkan keterampilan dengan orang atau manusia. Human
skills yaitu kecakapan pemimpin untuk bekerja secara efektif sebagai anggota
kelompok yang dipimpinnya.
3) Conceptual skill yaitu kemampuan pemimpin melihat organisasi sebagai satu
keseluruhan.
b. Kualifikasi pribadi
Menurut Tracey (1999), seperti yang dikutip oleh Wahjosumidjo (2004: 387)
Kualifikasi pribadi yaitu serangkaian sifat atau watak yang harus dimiliki kepala
sekolah yang meliputi:
) Staf Pengajar Prodi Manajemen Pendidikan FIP UNY
7
1) Mental, unggul dalam intelegensi, mampu memberikan pertimbangan individu
yang bagus, memiliki kecakapan dalam menghadapi persoalan-persoalan
abstrak, kecakapan menghadapi, dan bekerjasama dengan orang lain,
kesanggupan untuk mempengaruhi orang lain, unggul didalam kemampuan
menulis dan berbicara.
2) Fisik, stamina fisik yang sangat penting agar mampu memenuhi tuntutan
tugas. Kesiagaan, energik dan antusiasme sehari-hari memerlukan kesehatan
prima.
3) Emosi, sepantasnya pemimpin harus memiliki emosi yang stabil dan memiliki
daya tahan atau bersikap sabar terhadap kegagalan atau hambatan.
4) Berwatak sosial.
5) Kepribadian (personality), seorang pemimpin dikatakan memiliki kepribadian
apabila pemimpin atau kepala sekolah selalu bersikap dan berperilaku;
berpikir dan berbuat secara sistematik dan teratur, harus mengetahui modal
atau asset yang dimilikinya dengan segala keterbatasannya; selalu sadar,
simpatik dan loyal dengan bawahannya; cukup yakin untuk menghindarkan
tuntutan bawahan sejalan terhadap kemauan; cukup matang untuk tidak
merasa atau menjadi kecil dalam menghadapi gertakan atau kritik, membuat
senang bawahan, menolong bawahan sehingga merasa memperoleh
kemudahan, memberikan dorongan dan menerima bawahan, menciptakan satu
lingkungan yang dapat dipercaya, keterbukaan dan rasa hormat terhadap
individu.
Konsep Motivasi Kerja
Reksohadiprojo dan Handoko (2000:252) mengemukakan bahwa "Motivasi
adalah kebutuhan pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk
melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan". Sedangkan menurut
Wexley dan Yuki (1992:113) "Motivasi adalah suatu keadaan yang melatarbelakangi
individu untuk mencapai tujuan tertentu. Batasan pengertian ini memandang motivasi
dari sudut kepentingan individual". Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat
) Staf Pengajar Prodi Manajemen Pendidikan FIP UNY
8
ditarik pengertian secara deskripsi, bahwa motivasi kerja adalah suatu dorongan
positif seorang guru terhadap pekerjaannya, terhadap kondisi dan situasi kerja
maupun lingkungan kerjanya.
Motivasi merupakan obyek yang penting bagi manajer, dalam konteks ini
adalah Kepala Sekolah, karena manajer harus bekerja dengan dan melalui orang lain.
Manajer perlu memahami orang-orang dalam berperilaku tertentu agar dapat
mempengaruhinya untuk bekerja sesuai dengan yang diinginkan organisasi dalam
konteks studi ini adalah sekolah.
Teori-teori Motivasi kerja
Herzberg (1959) dalam Reksohadiprojo dan Handoko (2000:259)
mengemukakan ada dua kelompok faktor yang mempengaruhi motivasi kerja
seseorang dalam organisasi, yaitu:
"(1), pemuas kerja (Job Satisfies) yang berkaitan dengan isi pekerjaan dan (2).
Ketidakpuasan kerja (Job Dissatisfies) yang berkaitan dengan suasana kerja. Satisfies
disebut motivators sedangkan Dissatisfies disebut faktor-faktor hygienis (Hygienic
Factors). Dengan dikemukakannya kedua istilah tersebut teori yang dikemukakan
oleh Herzberg dikenal sebagai teori motivasi dua faktor atau teori motivasi higienis
(motivation hygienic theory). Faktor higienis ini bukan sebagai kepuasan, tetapi
justru sebaliknya sebagai sumber ketidakpuasan kerja. Faktor-faktor tersebut
antara lain: kondisi kerja, hubungan antar pribadi (terutama dengan mandor), gaji dan
sebagainya. Perbaikan faktor-faktor higienis akan mengurangi atau menghilangkan
ketidakpuasan kerja tetapi tidak akan menimbulkan dorongan dan kepuasan kerja.
Faktor higienis sendiri tidak menimbulkan motivasi tetapi diperlukan agar motivators
terbukti sebagai faktor-faktor sumber kepuasan kerja yang dapat memotivasi manusia
pada pekerjaan mereka. Faktor-faktor tersebut antara lain: Prestasi, promosi, atau
kenaikan pangkat, penghargaan pekerjaan itu sendiri, dan tanggung jawab. Jadi secara
ringkas, bahwa faktor higienis (sering disebut faktor intrinsik) mempengaruhi
ketidakpuasan kerja. Faktor higienis membantu individu untuk menghilangkan
) Staf Pengajar Prodi Manajemen Pendidikan FIP UNY
9
ketidaksenangan, sedangkan motivator membuat individu senang dengan
pekerjaannya."Berdasarkan beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa suasana
kerja dan isi pekerjaan dalam suatu organisasi sangat penting dalam mempengaruhi
motivasi kerja seseorang.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kerja
Yunus (2007:45), mengemukakan sejumlah faktor-faktor dalam pekerjaan yang
mempengaruhi motivasi kerja individu sebagai berikut:
a. Rasa aman (security), yaitu adanya kepastian karyawan untuk memperoleh
pekerjaan tetap, memangku jabatan di perusahaan selama mungkin seperti
yang mereka harapkan.
b. Kesempatan untuk maju (type of work), yaitu adanya kemungkinan untuk
maju, naik tingkat, memperoleh kedudukan dan keahlian.
c. Tipe pekerjaan (type of work), yaitu adanya pekerjaan yang sesuai dengan
latar belakang pendidikan, pengalaman, bakat, dan minat karyawan.
d. Nama baik tempat bekerja (company), yaitu perusahaan (sekolah) yang
memberikan kebanggaan karyawan bila bekerja di perusahaan atau sekolah
tersebut.
e. Rekan kerja (Co worker), yaitu rekan kerja yang sepaham, yang cocok untuk
kerja sama.
f. Upah (pay), yaitu penghasilan yang diterima.
g. Penyelia (Supervisor), yaitu pemimpin atau atasan yang mempunyai
hubungan baik dengan bawahannya, mengenal bawahannya, dan
mempertimbangkan pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh bawahannya.
h. Jam kerja (work hours), yaitu jam kerja yang teratur atau tertentu dalam
sehari.
i. Kondisi kerja (working condition), yaitu seperti kebersihan tempat kerja,
suhu, ruangan kerja, ventilasi, kegaduhan suara, bau, dan sebagainya.
j. Fasilitas (benefit), yaitu kesempatan cuti, jaminan kesehatan, pengobatan dan
sebagainya.
Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Kerja Guru
Kepala sekolah perlu meningkatkan kemampuan dan keterampilan para
pelaksana pendidikan. Sebagai pemimpin dalam suatu lembaga pendidikan
hendaknya kepala sekolah memiliki pengetahuan yang luas dan keterampilan
kepemimpinan. Hal itu perlu dimiliki agar mampu mengendalikan, mempengaruhi
) Staf Pengajar Prodi Manajemen Pendidikan FIP UNY
10
dan mendorong bawahannya dalam menjalankan tugas dengan jujur, tanggung jawab,
efektif dan efesian. Kepala sekolah dalam meningkatkan motivasi kerja guru dengan:
Pertama: menetapkan sistem manajemen terbuka yaitu kepala sekolah menerima
saran, kritik yang muncul dari semua pihak lingkungan baik dari guru, karyawan serta
siswa. Manajemen terbuka ini memberikan kewenangan kepada para guru untuk
memberika saran bahkan kritik yang membangun bagi sekolah.
Kedua: Kepala sekolah juga menerapkan pembagian tugas dan tanggungjawab
dengan para guru agar guru yang terlibat lebih memahami tugasnya masing-masing
dan diharapkan adanya kerjasama dalam rangka mencapai tujuan bersama.
Ketiga: Kepala sekolah menerapkan hubungan vertikal ke bawah yaitu kepala
sekolah menjalin hubungan baik terhadap semua bawahan yaitu kepada guru dan
karyawan hal ini dilakukan agar mereka bersedia melaksanakan tugas-tugas dengan
sebaik-baiknya, memupuk kesetian dan tanggung jawab kepada pimpinan, tugas dn
tempat kerja. Kepala sekolah juga melakukan pendekatan-pendekatan untuk
meningkatkan daya kreasi, inisiatif yang tinggi untuk mendorong semangat
bawahannya.
Keempat: Kepala sekolah melakukan pemetaan program-program kegiatan untuk
meningkatkan motivasi kerja guru seperti: kegiatan briefing, penghargaan bagi guru
yang berprestasi, peningkatan kesejahjetraan guru, peningkatan SDM, memberikan
pelatihan untuk para guru, memberikan perhatian secara personel, workshop,
outbond. Melalui program-program tersebut maka diharapkan guru-guru mampu
mengembangkan proses kerjanya dan mampu menghasilkan output yang baik sesuai
program yang diselenggarakan.
Kelima: Kepala sekolah melakukan pengawasan yang bersifat continue dan
menyeluruh yaitu pengawasan yang meliputi seluruh aspek antara lain: personel,
pelaksanaan kegiatan, material dan hambatan-hambatan. Pengawasan yang dilakukan
kepala sekolah berdasarkan pada tujuan sekolah, agar pekerjaan atau kegiatan dapat
berlangsung sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan untuk mengetahui
hambatan ataupun kesalahan yang terjadi dalam pelaksanaan kegiatan
) Staf Pengajar Prodi Manajemen Pendidikan FIP UNY
11
Keenam: Kepala sekolah melakukan evaluasi meliputi evaluasi terhadap uraian tugas
dan evaluasi bukti-bukti dokumen, dengan cara melihat langsung terhadap bukti-bukti
tugas yang telah dilakanakan oleh guru kemudian memberikan masukan apabila
terdapat kesalahan atau kurang sesuai dengan kriteria yang diharapakan. Kepala
sekolah memberikan solusi terhadap hambatan-hambatan yang dihadapi oleh guru
dalam melakukan tugasnya. ( Suyanto dan Djihad Hisyam, 2000: 26)
Terdapat beberapa prinsip yang dapat diterapakan kepala sekolah untuk
mendorong guru agar mau dan mampu meningkatkan motivasi kerja yaitu:
1). Kegiatan yang dilakukan menarik dan menyenangkan
2). Tujuan kegiatan perlu disusun dengan jelas dan diinformasikan tentang hasil
setiap pekerjaannya.
3). Pemberian hadiah lebih baik dari ada hukuman, maupun sewaktu-waktu hukuman
juga diperlukan.
4). Memperhatikan kondisi fisiknya, rasa aman, menunjukkan bahwa kepala sekolah
memperhatikannya, sehingga setiap pegawai memperoleh kepuasaan dan
penghargaan. ( Yunus, 2007: 40)
Penutup
Bahwa jalannya roda organisasi biasanya menjadi lebih lancar bila di dalam
organisasi tersebut terdapat kepemimpinan yang efektif, yang dapat mengarahkan dan
membina perilaku organisasional dan administrasi dari seluruh anggota organisasi
sedemikian rupa sehingga terwujud perilaku yang kondusif untuk mengerahkan
segala kemampuan yang ada dalam diri masing-masing anggota organisasi untuk
mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan sebelumnya.
Setiap tenaga kependidikan seperti guru memiliki kharakteristik khusus, yang
berbeda satu sama lain sehingga memerlukan perhatian dan pelayanan khusus pula
dari pimpinannya yaitu kepala sekolah agar memanfaatkan waktu untuk
meningkatkan profesionalismenya. Perbedaan itu tidak hanya dalam bentuk fisik,
tetapi juga dalam kondisi psikisnya misalnya motivasinya. Oleh karena itu kepala
) Staf Pengajar Prodi Manajemen Pendidikan FIP UNY
12
sekolah perlu memperhatikan motivasinya dan faktor-faktor yang lain yang
berpengaruh.
Motivasi kerja perlu dikempangkan untuk meningkatkan prestasi kerja dan
kepuasan kerja guru yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan produktivitas
organisasi kerja yaitu mutu sekolah sebagai lembaga pendidikan. Oleh karena itu
sebagai seorang pimpinan disuatu lembaga pendidikan perlu mempunyai strategi
tertentu untuk meningkatkan motivasi kerja guru.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin Abdullrachman. (2004). Teori Pengembangan clan Filosofi Kepemimpinan
Kerja. Jakarta: Ikhtiar Baru
Koontz, Harold dan Cyrill O’Donnell dalam Sukarna. (1990). Pengantar Ilmu
Administrasi. Bandung: CV. Mundur Maju.
Kartono Kartini. (1990). Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: CV. Rajawali.
Mulyasa. E. (2004). Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan
Implementasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Ngalim Purwanto. (1992). Kepemimpinan Yang Efektif. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Reksohadiprojo Sukanto dan T. Hani Handoko. (2000). Organisasi Perusahaan:
Teori, Struktur dan Perilaku. Yogyakarta: BPFE.
Suyanto dan Djihad Hisam. (2000). Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia
Memasuki Millenium III. Yogyakarta: Adi
Slamet PH. (2000). "Karakteristik Kepala Sekolah Tangguh."”Jurnal Pendidikan dan
Kebudayaan. (No. 025 tahun VI).
Wahjosumidjo. (2001). Kepemimpinan dan Motivasi. Jakarta: Ghalia Indonesia.
———————. (2004). Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan
Permasalahannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Wexley. Kennet N dan Gary A. Yuki (editor Agus Danna). (1992). Manajemen
Perilaku Organisasi Pendayagunaan Sumber Daya Manusia. Jakarta:
Erlangga.
Yunus. (2007). Kepemimpinan Pendidikan. Ciamis: Unigal

0 komentar:

Posting Komentar

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.

Popular Posts