Senin, 01 Desember 2014

makalah inovasi

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penyusun panjatkan atas segala limpahan rahmat dan karunia Allah SWT, karenaNya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahcurahkan kepada Nabi Muhammad SAW . Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah MSDM, adapun judul makalah ini adalah “Mutu Lingkungan Kerja”. Penyusun menyadari makalah ini masih banyak kekurangan dalam penyusunannya. Untuk itu penyusun menerima saran dan kritik yang membangun supaya adanya perbaikan. Akhirnya, penyusun sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas segala kekurangan. Besar harapan semoga makalah ini bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya. Alhamdullillahirrabibil’aalamiin. Wassaalaamu’alaikum Wr. Wb. Ciamis, April 2011 Penyusun   BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Semua usaha/perusahaan pasti memerlukan manajemen yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk mencapai tujuan tertentu bagi perusahaan tersebut. Tidak hanya pada sektor swasta, sektor publik juga memerlukan manajemen yang baik agar dapat memberikan pelayanan kepada publik atau masyarakat yang memerlukan dengan baik pula. Berhasil atau tidaknya suatu organisasi dalam mencapai tujuannya tergantung oleh keberhasilannya dari individu organisasi itu sendiri dalam menjalankan tugas mereka. Berbagai macam hambatan pasti akan ditemui oleh para individu organisasi untuk bisa bekerja dengan baik sehingga kinerja mereka dapat diterima dengan baik oleh perusahaan dan masyarakat yang memerlukan. Faktor yang dapat mempengaruhi kinerja, antara lain: motivasi, kepemimpinan, lingkungan kerja, insentif, budaya kerja, komunikasi, jabatan, pemberian gajih karyawan, pelatihan. Permasalahan-permasalahan tersebut di atas akan menjadi bahan bahasan dalam makalah yang berjudul “ Mutu Lingkungan Kerja” ini. B. Rumusan Masalah Penelitian ini akan mengkaji bagaimana pengaruh motivasi, kepemimpinan, pelatihan, di lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan. Bagi organisasi yang memberikan pelayanan kepada publik, tentu saja kinerja karyawan itu dapat dilihat dari bagaimana organisasi tersebut dalam memberikan pelayanan kepada public . Kepemimpinan merupakan faktor penting dalam memberikan pengarahan kepada karyawan apalagi pada saat-saat sekarang ini di mana semua serba terbuka, maka kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang bisa memberdayakan karyawannya. Kepemimpinan yang bisa menumbuhkan motivasi kerja karyawan adalah kepemimpinan yang bisa menumbuhkan rasa percaya diri para karyawan dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Selain kepemimpinan, pelatihan juga penting bagi para karyawan. Oleh sebab itu, kualitas pelayanan pimpinan kepada karyawan perlu ditingkatkan. Melalui pelatihan ini para karyawan bisa terbantu mengerjakan pekerjaan yang ada, dapat pula meningkatkan prestasi kerja karyawan. Pelatihan bagi karyawan merupakan sebuah proses mengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu serta sikap agar karyawan semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan semakin baik, sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Motivasi juga dapat memberikan sumbangan yang signifikan dalam peningkatan kualitas pelayanan. Seperti teori Maslow tentang motivasi adalah seperti kerucut, manusia akan termotivasi apabila kebutuhan yang menjadi sasaran hidup terpenuhi dengan baik mulai dari kebutuhan fisiologis sampai kebutuhan aktualisasi diri. Semakin kebutuhannya terpenuhi maka akan semakin besar kinerja pegawai dalam melakukan tugas dan kewajibannya di perusahaan. Lingkungan kerja di perusahaan juga mempengaruhi kinerja yang dilaksanakan oleh karyawan. Lingkungan kerja ini sendiri terdiri atas fisik dan nonfisik yang melekat dengan karyawan sehingga tidak dapat dipisahkan dari usaha pengembangan kinerja karyawan. Lingkungan kerja yang segar, nyaman, dan memenuhi standart kebutuhan layak akan memberikan kontribusi terhadap kenyamanan karyawan dalam melakukan tugasnya. Lingkungan kerja nonfisik yang meliputi keramahan sikap para karyawan, sikap saling menghargai diwaktu berbeda pendapat, dan lain sebagainya adalah syarat wajib untuk terus membina kualitas pemikiran karyawan yang akhirnya bisa membina kinerja mereka secara terus-menerus. C. Tujuan Penulisan 1. Mendeskripsikan Mutu Lingkungan Kerja. 2. Mendeskripsikan hal-hal yang menjadi penyebab rendahnya Mutu Lingkungan Kerja diIndonesia. 3. Mendeskripsikan solusi yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan mutu lingkungan kerja di Indonesia D. Manfaat Penulisan 1. Bagi Pemerintah bisa dijadikan sebagai sumbangsih dalam meningkatkan mutu kerja di Indonesia 2. Bagi Mahasiswa bisa dijadikan sebagai bahan kajian belajar dalam rangka meningkatkan prestasi diri pada khususnya dan meningkatkan mutu kerja pada umumnya.   BAB II PEMBAHASAN MATERI 2.1. Pengertian Mutu Mutu adalah paduan sifat-sifat barang atau jasa, yang menunjukkan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, baik kebutuhan yang dinyatakan maupun yang tersirat. Empat usaha mendasar untuk Menghasilkan mutu : 1. Ciptakan Situasi Menang-Menang, Bukan Kalah-Menang. 2. Utamakan Menumbuhkan Motivasi Intrinsik dalam Diri Setiap Orang. 3. Berorientasilah pada Proses dan Hasil Jangka Panjang. 4. Utamakan Mengembangkan Kerja sama, Bukan Persaingan. jadi mutu berawal dari diri kita sendiri, mutu adalah naluri manusia dan kita selalu mengharap bahkan menuntut mutu orang lain tetapi orang lain juga selalu mengharap dan menuntut mutu dari diri kita. Gambar Mutu Pelayanan Jasa   2.2. Sifat Pokok Mutu Jasa 2.3. Lingkungan Kerja Lingkungan kerja adalah keadaan di mana tempat kerja yang baik meliputi fisik dan nonfisik yang dapat memberikan kesan menyenangkan, aman, tentram, perasaan betah/kerasan, dan lain sebagainya. 2.3.1. Indikatornya adalah: a. perlengkapan kerja, yang meliputi sarana dan prasarana penunjang kerja seperti komputer, mesin ketik, mesin pengganda, dan lain sebagainya. b. Pelayanan kepada pegawai atau penyedia tempat ibadah, sarana kesehatan, koperasi sampai pada kamar kecil; c. kondisi kerja, seperti ruang, suhu, penerangan, dan ventilasi udara; d. hubungan personal yang meliputi kerjasama antar pegawai, dan atasan. e. d. Pelatihan Pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja pegawai pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya.   2.3.2. Indikator yang akan diteliti meliputi: a. pelatihan sebagai pengalaman untuk belajar bagi pegawai; b. pelatihan merupakan aktivitas yang terencana; c. pelatihan dapat memberikan jawaban atas persoalan yang ada. 2.4. Kinerja Karyawan Kinerja karyawan adalah kemampuan kinerja yang dicapai dan diinginkan dari perilaku pegawai dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan yang menjadi tanggung jawab secara individu atau kelompok. 2.4.1. Indikator yang akan diteliti adalah a. kemampuan dalam menyusun rencana kerja; b. kemampuan merealisasikan rencana kerja; c. kemampuan melaksanakan perintah/instruksi atasan; d. kemampuan memberikan pelayanan kepada masyarakat; e. kemampuan dalam kualitas kerja, meliputi ketelitian, kerapian, kecepatan, ketepatan, dan keterampilan dalam melakukan tugas; dan f. kemampuan pegawai dalam mencapai target kerja atau hasil kerja yang diinginkan. 2.4.2. Lima ciri lingkungan kerja tidak sehat Tidak sedikit orang terjebak dalam lingkungan kerja yang tidak sehat, namun memilih bertahan dengan harapan suatu saat keadaan akan berubah menjadi lebih baik. Lingkungan kerja yang disfungsional bisa membuat Anda merasa tidak bahagia dan kehilangan kesempatan untuk maju dan berkembang. Simak sejumlah pertanda berikut ini, untuk mengetahui ciri-ciri lingkungan kerja yang tidak sehat atau disfungsional: 1. Dilarangnya multitasking Bukannya dianggap berharga, karyawan yang memiliki kecakapan dalam berbagai bidang justru dianggap sebagai rintangan di lingkungan kerja disfungsional. Lebih mudah mempertahankan kontrol jika tidak ada satu orang pun yang tahu terlalu banyak. Jadi, perusahaan memberikan setiap orang peran yang sangat khusus dengan tugas terpisah.   2. Rapat tidak jelas, di sebuah lingkungan kerja yang tidak sehat, rapat bukanlah tempat untuk saling berbagi ide dan tujuan jelas. Sebaliknya, setiap pertemuan diwarnai dengan matematika yang memusingkan, jawaban-jawaban mengelak, dan metafora-metafora klise. 3. Beban kerja menumpuk atau tak ada. Memiliki pekerjaan jauh lebih banyak daripada yang bisa Anda tangani, atau sebaliknya menghabiskan sebagian besar waktu bekerja dengan duduk ongkang-ongkang kaki, keduanya merupakan tanda lingkungan kerja yang disfungsional. Entah atasan tidak tahu tentang tugas Anda sehari-hari, atau memang tidak peduli. 4. Kebijakan tumpang tindih. Setiap hari Anda menerima memo, email, atau instruksi lisan baru. Setiap kali, semuanya seperti bertentangan dengan memo, email, atau instruksi sebelumnya. Dan Anda dilarang bertanya atau mengeluh. 5. Tujuan perusahaan tidak realistis. Perusahaan menetapkan tujuan yang tidak realistis. Misalnya, meski pun keuntungan perusahaan telah menurun selama beberapa kuartal berturut-turut, atasan mengumumkan bahwa kuartal ini perusahaan bertujuan mencetak keuntungan empat kali lipat. Dan bonus Anda sepenuhnya tergantung pada keberhasilan mencapai tujuan tersebut   BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Mutu adalah paduan sifat-sifat barang atau jasa, yang menunjukkan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, baik kebutuhan yang dinyatakan maupun yang tersirat, sedangkan Lingkungan kerja adalah keadaan di mana tempat kerja yang baik meliputi fisik dan nonfisik yang dapat memberikan kesan menyenangkan, aman, tentram, perasaan betah/kerasan, dan lain sebagainya 3.2. Saran Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kerja yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negara-negara lain adalah dengan meningkatkan mutu lingkungan kerja terlebih dahulu. Dengan meningkatnya mutu kerja berarti hasil yang didapat akan semakin baik dan bermutu serta mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional, pada dasarnya semua instansi atau perusahaan mempunyai aturan yang jelas.  DAFTAR PUSTAKA Supardi, Anwar. 2002. Dasar-dasar Perilaku Organisasi (Cetakan Pertama). Yogyakarta: UII Press. Hasibuan, SP Malayu.2007.Manajemen Sumber Daya Manusia.Jakarta.Bumi Aksara. Walker, David. .Environmental management systems: Information management and corporate respon. Journal of Facilities Management. 2007. ABI/INFORM Global Slamet, Margono, MUTU JASA PENDIDIKAN IPB http://metrotvnews.com/index.php/metromain/newscat/polkam/2010/07/12/23058/Lima-Ciri-Lingkungan-Kerja-Tidak-Sehat

0 komentar:

Posting Komentar

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.

Popular Posts