Senin, 01 Desember 2014

makalah manajerial

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Berdasarkan hasil observasi tentang pengaruh kompetensi manajerial kepala madrasah dan budaya disiplin kinerja guru terhadap peningkatan mutu hasil pembelajaran/pendidikan siswa di Madrasah Aliyah Kelompok Kerja Kepala (K3M) MAN Cipasung Kabupaten Tasikmalaya rendah atau lemah. “Lemahnya manajerial kepala madrasah mengakibatkan menurunnya kinerja guru dan merosotnya mutu pendidikan” (Ropiani, 2006). Penelitian ini adalah penelitian yang dianggap relevan dengan penelitian yang sedang penulis teliti. Alasannya dari data di lapangan diperoleh bahwa nilai Ujian Nasional di Madrasah Aliyah K3M MAN Cipasung Kabupaten Tasikmalaya kurang menunjukan peningkatan prestasi yang signifikan, terutama di Madrasah Aliyah Swasta perolehan nilai UN dari tahun ke tahun dipastikan menurun. Berikut ini adalah data nilai rata rata Ujian Nasional dalam tiga tahun terakhir dari seluruh Madrasah Aliyah K3M MAN Cipasung di Kabupaten Tasikmalaya: Tabel 1.1 NILAI RATA-RATA UJIAN NASIONAL MADRASAH ALIYAH DI K3M MAN CIPASUNG KABUPATEN TASIKMALAYA PROGRAM IPA NO NAMA MADRASAH MATA PELAJARAN TAHUN 2008 2009 2010 1. MAN CIPASUNG B. Indonesia 7,40 7,63 7,23 B. Inggris 7,65 7,53 7,97 Matematika 7,60 7,68 7,57 Fisika 6,75 6,70 6,83 Kimia 6,98 7,02 7,14 Biologi 7,55 7,71 7,48 2. MA AL-FURQON B. Indonesia 7,62 7,01 7,23 B. Inggris 7,20 7,16 7,19 Matematika 7,02 6,89 6,66 Fisika 7,50 7,40 7,76 Kimia 8,24 7,56 7.34 Biologi 7,78 7,43 7,02 3. MA NURUL IMAN B. Indonesia 7,90 7,10 6,54 B. Inggris 8,15 7,45 7,71 Matematika 6,95 6,92 6,76 Fisika 7,35 6,95 6,83 Kimia 7,89 7,68 7,75 Biologi 7,65 7,51 7,48 Sumber : Seksi Mapenda Islam Kementrian Agama Kabupaten Tasikmalaya Tabel 1.2 NILAI RATA-RATA UJIAN NASIONAL MADRASAH ALIYAH DI K3M MAN CIPASUNG KABUPATEN TASIKMALAYA PROGRAM IPS NO NAMA MADRASAH MATA PELAJARAN TAHUN 2008 2009 2010 61. MAN CIPASUNG B. Indonesia 6,40 7,63 7,23 B. Inggris 7,25 7,83 7,97 Matematika 7,11 7,68 7,57 Ekonomi 7,67 6,70 6,83 Sosiologi 7,73 7,81 7,66 Geografi 6,71 7.11 7,55 2. MA AL-IKHLAS B. Indonesia 7,55 7,78 7,75 B. Inggris 7,60 7,40 7,67 Matematika 7,65 7,25 7,59 Ekonomi 7,10 6,80 7,13 Sosiologi 7,75 7,83 7,67 Geografi 7,11 7,68 7,57 3. MA TARBIYATUL MUALIMIN B. Indonesia 6,10 6,39 5,94 B. Inggris 7,00 7,20 6,70 Matematika 6,20 6,34 6,87 Ekonomi 7,00 7,12 7,18 Sosiologi 7,38 6,89 7,36 Geografi 6,81 6,70 7,04 4. MA AL-HAMIDIYAH B. Indonesia 6,00 7,16 7,00 B. Inggris 7,30 8,20 7,41 Matematika 7,10 7,35 7,59 Ekonomi 7,00 7,11 7,52 Sosiologi 7,26 7,12 7,20 Geografi 7,45 7,08 7,22 5. MA AL-MURSALIN B. Indonesia 7,12 7,00 7,45 B. Inggris 7,18 7,25 6,60 Matematika 7,70 7,55 7,35 Ekonomi 7,33 7,25 7,36 Sosiologi 6,58 7,03 7,11 Geografi 7,43 6,95 7,06 6. MA MANBAUL ULUM B. Indonesia 7,22 7,10 7,15 B. Inggris 7,48 7,25 7,12 Matematika 7,60 7,55 7,35 Ekonomi 7,53 7,25 7,36 Sosiologi 6,77 7,04 6,89 Geografi 7,11 7,08 7,17 7. DAAR ELFIKRI B. Indonesia 7,12 7,00 7,45 B. Inggris 7,08 7,25 7,60 Matematika 7,10 7,55 7,35 Ekonomi 7,13 7,25 7,36 Sosiologi 7,26 7,12 7,20 Geografi 6,92 7,08 7,26 8. MA AL-MUAWANAH B. Indonesia 7,12 7,00 7,45 B. Inggris 7,38 7,25 7,60 Matematika 7,70 7,55 7,35 Ekonomi 6,83 7,25 7,06 Sosiologi 7,66 7,58 7,34 Geografi 6,56 7,24 6,70 Sumber : Seksi Mapenda Islam Kementrian Agama Kabupaten Tasikmalaya Tabel 1.3 NILAI RATA-RATA UJIAN NASIONAL MADRASAH ALIYAH DI K3M MAN CIPASUNG KABUPATEN TASIKMALAYA PROGRAM KEAGAMAAN NO NAMA MADRASAH MATA PELAJARAN TAHUN 2008 2009 2010 1. MAN CIPASUNG B. Indonesia 7,40 7,63 7,23 B. Inggris 7,25 7,83 7,97 Matematika 7,60 7,68 7,57 Tafsir 7,75 7,70 7,83 Hadis 7,02 7,68 7,71 Fikih 7,88 8,22 8,46 Sumber : Seksi Mapenda Islam Kementrian Agama Kabupaten Tasikmalaya 1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah Sesuai dengan latar belakang penelitian yang telah dikemukakan di atas, masalah-masalah yang akan diteliti sebagai berikut : 1) Bagaimana pengaruh manajerial kepala madrasah terhadap peningkatan mutu pendidikan siswa di Madrasah Aliyah K3M MAN Cipasung Kabupaten Tasikmalaya? 2) Bagaimana pengaruh budaya disiplin kinerja guru terhadap peningkatan mutu pendidikan siswa di Madrasah Aliyah K3M MAN Cipasung Kabupaten Tasikmalaya? 3) Bagaimana pengaruh manajerial kepala madrasah terhadap budaya disiplin kinerja guru di Madrasah Aliyah K3M MAN Cipasung Kabupaten Tasikmalaya? 4) Bagaimana pengaruh manajerial kepala madrasah dan budaya disiplin kinerja guru secara bersama-sama terhadap peningkatan mutu pendidikan siswa di Madrasah Aliyah K3M MAN Cipasung Kabupaten Tasikmalaya? 1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas, penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap Pengaruh Kompetensi Manajerial Kepala Madrasah dan Budaya Disiplin Kinerja Guru Terhadap Peningkatan Mutu Pendidikan Siswa di Madrasah Aliyah K3M MAN Cipasung Kabupaten Tasikmalaya. 1.3.2 Tujuan Penelitian Yang menjadi tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk menguji besarnya pengaruh kompetensi manajerial kepala madrasah dan budaya disiplin kinerja guru terhadap peningkatan mutu pendidikan siswa di Madrasah Aliyah K3M MAN Cipasung Kabupaten Tasikmalaya. Sedangkan yang menjadi maksud khusus dalam pelaksanaan penelitian ini antara lain: 1) Untuk mengetahui pengaruh kompetensi manajerial kepala madrasah terhadap peningkatan mutu pendidikan siswa di Madrasah Aliyah K3M MAN Cipasung Kabupaten Tasikmalaya. 2) Untuk mengetahui pengaruh budaya disiplin kinerja guru terhadap terhadap peningkatan mutu pendidikan siswa di Madrasah Aliyah K3M MAN Cipasung Kabupaten Tasikmalaya. 3) Untuk mengetahui pengaruh kompetensi manajerial kepala madrasah terhadap budaya disiplin kinerja guru di Madrasah Aliyah K3M MAN Cipasung Kabupaten Tasikmalaya. 4) Untuk mengetahui pengaruh kompetensi manajerial kepala madrasah dan budaya disiplin kinerja guru secara bersama-sama terhadap peningkatan mutu pendidikan siswa di Madrasah Aliyah K3M MAN Cipasung Kabupaten Tasikmalaya 1.4 Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan mempunyai kegunaan baik dari segi teoritis maupun praktis sebagai berikut: 1.4.1 Kegunaan Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan bagi peneliti mengenai kompetensi manajerial kepala madrasah, budaya disiplin kinerja guru, dan pengaruhnya terhadap peningkatan mutu pendidikan siswa di Madrasah Aliyah K3M MAN Cipasung Kabupaten Tasikmalaya. 1.4.2 Kegunaan Praktis Secara praktisnya hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan sebagai pertimbangan untuk instansi terkait, khususnya bagi Kementrian Agama dalam hal ini Madrasah Aliyah baik negeri maupun swasta, Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan bahan perbandingan bagi pihak-pihak terkait yang melakukan penelitian lanjutan, karena ternyata masih banyak variabel yang senantiasa memberikan pengaruh terhadap variabel yang diteliti. BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Manajerial Kepala Madrasah/Sekolah Kepala Madrasah/Sekolah merupakan motor penggerak, penentu arah kebijakan sekolah yang akan menentukan bagaimana tujuan-tujuan sekolah bisa direalisasikan. Dalam menjalankan fungsinya sebagai pengelola/manajer, kepala sekolah harus mampu menguasai tugas-tugasnya dan melaksanakan tugasnya dengan baik. Untuk itu, ia harus kreatif dan mampu memiliki ide-ide dan inisiatif yang menunjang perkembangan sekolah. Ide kreatifnya dapat digunakan untuk membuat perencanaan,menyusun organisasi sekolah, memberikan pengarahan dan mengatur pembagian kerja, mengelola kepegawaian yang ada di lingkungan sekolah agar keseluruhan proses administrasi berjalan dengan lancar (Yusak Burhanudin,2005) Menurut Hendiyat Soetopo & Wasty Soemanto ,(1988) fungsi kepala sekolah sebgai pemimpin pendidikan ialah menciptakan situasi belajar mengajar sehingga guru-guru dapat mengajar dan murid-murid dapat belajar dengan baik. Kepala sekolah sebagai manajer pendidikan harus memiliki pengetahuan dan teori-teori pengelolaan untuk diterapkan dalam peraktek kerjanya. Posisi pengelolaan menempati posisi penting dalam lingkungan pendidikan baik secara rasional, struktural, maupun oprasional. Karena itu, wawasan di bidang pengelolaan pendidikan sangat diperlukan oleh kepala sekolah agar mampu menjalankan tugas , fungsi dan tanggung jawabnya sebagai manajer pendidikan. Sebagai pengelola pendidikan, kepala sekolah juga bertanggung jawab untuk mengetahui pertumbuhan guru-guru secara kontinyu. Dengan peraktek demokratis , ia harus mampu membantu guru-guru mengenal kebutuhan masyarakat sehingga tujuan penddikan memenuhi hal itu. Ia harus mampu membina kurikulum sesuai dengan minat , kebutuhan dan kemampuan anak.Ia harus mampu menstimulir guru-guru untuk mengembangkan metode dan prosedur pengajaran.Ia harus mampu membantu guru-guru mengevaluasi program pendidikan dan hasil belajar murid Dari beberapa penjelasan di atas , untuk mewujudkan fungsinya sebagai pengelola pendidikan , kepala sekolah hendaknya mampu mengaplikasikan fungsi-fungsi ke dalam pengelolaan sekolah yang dipimpinnya. Diantara fungsinya-fungsinya adalah : a. Merencanakan b. Mengurganisasikan c. Memotivasi d. Mengarahkan e. Mengkoordinasikan f. Mengelola informasi g. Mengawasi Harris, (dalam Kartono, 2001:190) berpendapat bahwa: orang-orang yang perlu dipilih sebagai kandidat-kandidat atau calon pemimpin/manajer adalah mereka yang mempunyai kualifikasi antara lain sebagai berikut: 1) Memiliki kemauan untuk memikul tanggungjawab 2) Kemampuan untuk menjadi perseptif 3) Kemampuan untuk secara objektif 4) Kemampuan untuk menetapkan prioritas secara tepat 5) Kemampuan untuk berkomunikasi 2.1.2 Budaya Disiplin Kinerja Pendefinisian budaya dalam kamus istilah pendidikan adalah daya dari kemampuan jiwa untuk berpikir dan berkreasi/keadaan watak yang baik (M Sastrapraja 1978), sedangkan disiplin merupakan bimbingan ke arah perbaikan melalui pengarahan penerapan dan paksaan/ pelaksanaan peraturan secara keras/tegas (M Sastrapraja 1978). Kinerja merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, work performance atau job performance tetapi dalam bahasa Inggrisnya sering disingkat menjadi performance saja. Kinerja dalam bahasa Indonesia disebut juga prestasi kerja. Kinerja atau prestasi kerja (performance) diartikan sebagai ungkapan kemampuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap, ketrampilan dan motivasi dalam menghasilkan sesuatu. Jadi budaya disiplin kinerja dapat diartikan kemampuan jiwa untuk selalu berpikir /berkreasi yang disertai bimbingan untuk menraih prestasi dalam pekerjaan. Masalah kinerja selalu mendapat perhatian dalam manajemen karena sangat berkaitan dengan produktivitas lembaga atau organisasi. “performance = Ability x motivation”. Dan faktor-faktor utama yang mempengaruhi kinerja adalah kemampuan dan kemauan. Memang diakui bahwa banyak orang mampu tetapi tidak mau sehingga tetap tidak menghasilkan kinerja. Demikian pula halnya banyak orang mau tetapi tidak mampu juga tetap tidak menghasilkan kinerja apa-apa. Kinerja adalah sesuatu yang dicapai atau prestasi yang diperlihatkan atau kemampuan bekerja, dengan kata lain bahwa kinerja dapat diartikan sebagai prestasi kerja. Henri Simamora (1997:423) menyatakan bahwa prestasi kerja (performance) diartikan sebagai suatu pencapaian persyaratan pekerjaan tertentu yang akhirnya secara langsung dapat tercermin dari output yang dihasilkan baik kuantitas maupun kualitasnya. Sedang Hasibuan (2001:94) mendefinisikan prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu. 2.1.3 Mutu Pendidikan Siswa Mutu mengandung makna derajat atau tingkat keunggulan suatu produk, baik berupa barang maupun jasa. Dalam konteks pendidikan, dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam “proses pendidikan” termasuk bahan ajar, metodologi, sarana sekolah, dukungan administrasi dan prasarana, dan sumber daya lain serta penciptaan suasana yang kondusif. Dalam “hasil belajar” mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada kurun waktu tertentu. Ini dapat berupa hasil tes kemampuan akademis, prestasi di bidang olah raga, seni atau keterampilan yang lain, suasana disiplin, keakraban, kekeluargaan, kenyamanan, kebersihan dan lainnya. Peningkatan mutu pendidikan, tidak dapat terlaksana tanpa pemberian kesempatan sebesar-besarnya pada sekolah yang merupakan ujung tombak terdepan untuk terlibat aktif secara mandiri mengambil keputusan tentang pendidikan. Sekolah harus menjadi bagian utama, sedangkan masyarakat dituntut partisipasinya dalam peningkatan mutu yang telah menjadi komitmen sekolah demi kemajuan masyarakat. Peningkatan mutu hanya akan berhasil jika ditekankan adanya kemandirian dan kreativitas sekolah. Proses pendidikan menyangkut berbagai hal diluar proses pembelajaran, seperti misalnya lingkungan sekolah yang aman dan tertib, misi dan target mutu yang ingin dicapai setiap tahunnya, kepemimpinan yang kuat, harapan yang tinggi dari warga sekolah untuk berprestasi, pengembangan diri, evaluasi yang terus menerus, komunikasi dan dukungan intensif dari pihak orang tua, dan masyarakat 2.2 Kerangka Pemikiran Pokok-pokok pemikiran dalam penelitin ini bertolak dari pokok-pokok pikiran tentang manajerial kepala sekolah dan budaya disiplin kinerja guru untuk upaya meningkatkan kualitas/mutu pendidikan. Dari pemaparan diatas, hubungan antar variabel dapat digambarkan dalam bagan berikut ini: 2.3 Hipotesis Hipotesis adalah pernyataan yang kebenarannya harus diuji. Sejalan dengan hal itu, Nasir (1983:183) berpendapat bahwa “Hipotesis adalah pernyataan yang bersifat tekanan terhadap hubungan antara dua variabel atau lebih”. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah: 1. Terdapat pengaruh yang positif dari manajerial kepala madrasah/sekolah terhadap peningkatan mutu pendidikan siswa 2. Terdapat pengaruh yang positif dari budaya disiplin kinerja guru terhadap peningkatan mutu pendidikan siswa . 3. Terdapat pengaruh yang positif dari manajerial kepala madrasah/sekolah dan budaya disiplin kinerja guru secara bersama-sama terhadap peningkatan mutu pendidikan siswa BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1. Objek Penelitian Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah kemampuan manajerial kepala madrasah/sekolah (X1) meliputi atas perencanaan yaitu tentang penyusunan visi, misi, & tujuan, penyusunan program, perencanaan kebutuhan biaya & dana dan penyusunan mekanisme monitoring & evaluasi. 3.2. Metode dan Desain Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan dan verifikatif, sebagaimana dikemukakan oleh Surakhmad (1994:17) bahwa: “Metode survey dengan analisis deskriptif memiliki cirri, dipusatkan pada pemecahan masalah yang ada pada waktu sekarang dan aktual serta data yang ada, mula-mula dijelaskan kemudian dianalisis”. Kemudian Nawawi (1999:63) mengemukakan: Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang sedang diselidiki dengan menggambarkan, melukiskan keadaan subjek atau objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Sedangkan penelitian verifikatif adalah suatu metode yang dilakukan untuk menguji hipotesis dengan menggunakan perhitungan dari statistik. Mengingat sifat penelitian ini adalah deskriptif dan verifikatif yang dilaksanakan melalui pengumpulan data di lapangan, maka metode penelitian yang digunakan adalah metode descriptif survey dan explanatory survey. Tipe penyelidikan yang dilakukan adalah causalitas karena menerangkan suatu pengaruh dari satu variabel terhadap variabel lainnya. 3.3. Operasionalisasi Variabel Pada penelitian ini ditetapkan tiga jenis variabel yang akan diukur, yaitu : a. Variabel bebas (independent variable) dengan notasi (X) yaitu variable yang memberikan pengaruh kepada variable terikat. Variable tersebut adalah : 1) Variabel Kemampuan Manajerial Kepala Madrasah/Sekolah (X1) Tabel 3.1 Kisi-Kisi Angket Kemampuan Manajerial Kepala Madrasah/Sekolah (X1) Variabel Dimensi Indikator Skala Kinerja Kepala Perencanaan Penyusunan Program Perencanaan kebutuhan biaya & dana Penyusunan mekanisme monitoring & evaluasi Pengorganisasian Penyusunan struktur organisasi Pemilihan personal Penyusunan uraian tugas Penyusunan mekanisme kerja Penyusunan sistem koordinasi Pelaksanaan Pelaksanaan Proses KBM Pelaksanaan Bimbingan Pelaksanaan Administrasi Pengawasan Sistem pengawasan dan pengendalian Sistem Pengendalian dan pengawasan Departemen 2) Variabel Budaya Disiplin Kinerja Guru (X2) Tabel 3.2 Kisi-Kisi Angket Kinerja Guru (X2) Variabel Dimensi Indikator Skala Kinerja Guru 1. Kualitas kerja 2. Ketepatan 3. Inisiatif 4. Kemampuan 5. Komunikasi 1. Prestasi kerja 2. Kejujuran 3. Tanggung jawab 4. Kesetiaan 1. Kedisiplinan waktu 2. Kedisiplinan administrasi 3. Kehadiran 1. Prakarsa 2. Kreatifitas 3. Inovasi 1. Pedagogik 2. Profesionalisme 3. Kepribadian 4. Sosial 1. Komunikasi dengan sejawat 2. Komunikasi dengan atasan 3. Komunikasi dengan siswa Ordinal 3. Variabel Peningkatan Mutu Pendidikan Siswa (Y) Tabel 3.3 Kisi-Kisi Angket Peningkatan Mutu Pendidikan Siswa (Y) Variabel Dimensi Indikator Skala Kinerja Guru 6. Kualitas pendidikan 7. Pengelolaan kelas 8. Inisiatif 9. Kemampuan 10. Komunikasi 5. Pengetahuan (kognitif) 6. Sikap (afektif) 7. Psikomotor (psikomotor) 4. Kedisiplinan waktu 5. Kedisiplinan administrasi 6. Kehadiran 4. Prakarsa 5. Kreatifitas 6. Inovasi 5. Pedagogik 6. Profesionalisme 7. Kepribadian 8. Sosial 4. Komunikasi dengan sejawat 5. Komunikasi dengan atasan 6. Komunikasi dengan siswa Ordinal 3.4 Teknik Analisis Data dan Uji Hipotesis 3.4.1 Teknik Analisis Data Djarwanto (l990) berpendapat bahwa:”Mengolah data adalah suatu usaha yang nyata untuk membuat data berbicara. Betapa lengkapnya data dan betapa tingginya nilai data itu, yang sudah dikumpulkan dengan susah payah tidak akan ada gunanya kalau dibiarkan beserakan. Kumpulan data hanya merupakan sesuatu yang bisu”. Berdasarkan identifikasi masalah yang ditindaklanjuti dengan upaya penemuan dan informasi yang dibutuhkan, maka data yang telah terkumpul dari jawaban responden diolah dalam proses manajemen data sebagai berikut: 1) Inventaris data; pemilihan dan penyusunan data secara sistematis. 2) Klasifikasi data; pengelompokan data setelah dipilah-pilah menurut jenisnya. 3) Tabulasi data; penyajian data dalam bentuk tabel sebagai dasar untuk analisis data, 4) Penghitungan skor. Untuk perhitungan skor dari masing-masing responden, penulis menggunakan skala Likert yang merefleksikan pola jawaban 5,4,3,2,l. Selanjutnya data yang diperoleh melalui penyebaran angket tersebut diolah dengan cara setiap jawaban yang diberikan oleh responden diberi nilai (skor) dengan Skala Likert, dengan cara mengalikan jumlah tanggapan responden dengan masing-masing skala. Sebagaimana disebutkan oleh Sugiono (l998), untuk keperluan analisis secara kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor sebagai berikut: 1. Sangat setuju/selalu/sangat positif skor = 5 2. Setuju/sering/positif skor = 4 3. Ragu-ragu/kadang-kadang/netral = 3 4. Tidak setuju/hampir tidak pernah/negatif = 2 5. Sangat tidak setuju/tidak pernah/sangat negatif = l Untuk selanjutnya analisis data dilakukan dengan terlebih dahulu memperhatikan uji persyaratan analisis, yaitu uji normalitas. Dengan demikian, akan diketahui apakah datanya berdistribusi normal dan mempunyai hubungan yang linear atau tidak. Uji normalitas yang digunakan adalah uji normalitas dari Kolmogorov-Smirnov. Namun demikian sebelum uji normalitas dan uji hipotesis dilakukan sebelumnya akan dilakukan terlebih dahulu deskripsi data, baru kemudian beranjak pada tahap uji persyaratan analisis, dan tahap pengujian hipotesis. 1) Deskripsi Data Tahap deskripsi data ini adalah membuat tabulasi data untuk setiap variabel, mengurutkan data secara interval dan menyusunnya dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, mencari modus, median, rata-rata (mean), dan simpangan baku. 2) Uji Prasyarat Uji prasyarat analisis yang akan dilakukan adalah uji normalitas. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya sebaran data yang akan dianalisis. 3.4.2 Pengujian Hipotesis Uji hipotesis penelitian dilakukan dengan menggunakan analisis korelasi dan regresi, yaitu untuk menguji hipotesis pertama dan kedua digunakan teknik analisis korelasi dan regresi linear sederhana; dan untuk menguji hipotesis ketiga digunakan teknik korelasi berganda (multiple correlation) dan regresi linier berganda (multiple regression). Uji keberartian menggunakan uji F pada taraf signifikansi a = 0,05. Dari perhitungan tersebut kemudian akan ditentukan nilai koefisien korelasi r dan R serta persamaan regresinya, sehingga dapat diketahui status hipotesis yang diajukan, diterima atau ditolak. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan tahapan-tahapan dan melakukan katagorisasi perbandingan dan pencarian hubungan atau korelasi serta pengaruhnya atau regresi baik dalam perhitungan sederhana maupun perhitungan ganda dengan menggunakan program SPSS (Statistical Program Smart Solution) 3.5 Tempat dan jadwal penelitian Penelitian ini dilakukan di Madrasah Aliyah yang berada di lingkungan Kementrian Agama baik negeri maupun swasta di K3M MAN Cipasung Kabupaten Tasikmalaya.. Pertimbangan memilih lokasi penelitian seperti tersebut di atas karena Madrasah-Madrasah Aliyah Swasta ini adalah binaan Madrasah Aliyah Negeri Cipasung, lokasinya mudah dijangkau, pelaku-pelaku mudah didekati dan situasi sosialnya mudah diamati, sehingga memperlancar untuk penelitian. Kemudian yang menjadi pertimbangan lebih khusus karena karakteristik kelayakan objek yang sangat memungkinkan untuk mendapatkan informasi yang akan menunjang tercapainya tujuan penelitian. Adapun langkah-langkah kegiatan yang akan dilaksanaan dalam penelitian ini, berdasarkan agenda sebagai berikut : 1. Tahap persiapan, terdiri dari kegiatan-kegiatan sebagai berikut: a. Mengurus perizinan penelitian b. Menentukan identifikasi masalah dan perencanaan penelitian c. Menentukan populasi dan sampel penelitian d. Menyusun instrumen penelitian e. Melakukan uji coba penelitian f. Menyusun usulan penelitian 2. Tahap pelaksanaan penelitian, terdiri dari rangkaian kegiatan sebagai berikut a. Pengumpulan data b. Penyebaran instrumen c. Pengolahan data d. Analisis dan interpretasi hasil pengolahan data e. Menguji hipotesis 3. Tahap pelaporan yaitu penyusunan laporan sesuai dengan sistematika yang telah ditentukan DAFTAR PUSTAKA Arikunto S. (1993). Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta. _________,(1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta Depdiknas. (2000). Manajemen Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. _________, (2004). Kurikulum 2004 (KBK). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. _________, (2000). Panduan Manajemen Sekolah. Depdiknas Dirjendikdasmen Direktorat SLTA. Jakarta. Djamaludin Ancok. (1989). Validitas dan Reliabilitas Instrumen-Penelitian, dalam Masri Singarimbun dan Sofian Effendi (Ed.) Metode Penelitian Survey, LP3ES, Jakarta. Hasibuan, J.J. (1986). Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Karya. Hendiyat Soetopo & Wasty Soemanto. (1982). Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara. H.Nawawi & M. Martini Hadari. (2000). Kepemimpinan yang Efektif. Yogyakarta: Gajahmada University Press. Mulyasa, Enco (2003). Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Permadi, Dadi. (1998). Kepala Sekolah. Bandung: PT Sarana Panca Karya. Ropiani. (2006). Pengaruh Kemampuan Manajerial Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru dan Peningkatan Mutu Hasil Pembelajaran Rusyan, A. (1999). Upaya meningkatkan Budaya Kinerja Guru. Jakarta: PT Nusantara Lestari Ceriapratama.

0 komentar:

Posting Komentar

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.

Popular Posts